Problematika buruh migran Indonesia di tengah carut-marutnya mekanisme perlindungan dan penempatan, ternyata menarik perhatian para seniman yang tergabung dalam Perkumpulan Kebudayaan Tritura, Yogyakarta. Diilhami oleh oleh Diego Rivera, seniman mural asal Mexico yang melukis orang-orang kecil yang bekerja keras membanting tulang, memeras keringat, berurai air mata di dinding balaikota, seniman-seniman ini ingin menjadi menjadi penyambung harapan, kisah, derita dan cerita pekerja migran dan keluarganya, yang selama ini mungkin hanya dianggap selintas lalu.
Lukisan-lukisan ini kemudian dipamerkan dalam sebuah pameran bertajuk “ARTSPIRASI BURUH MIGRAN: MELINTASI BATAS”, yang diadakan pada tanggal 2-12 Mei 2012, di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tidak kurang dari 56 perupa, menampilkan sekitar 68 karya baik lukis, patung mapun instalasi. Sebut saja, Nasirun, Ipong Purnama Sidhi, Toni Volunteero, Iskandar Sy, Irwan Guntarto, Sumarwan, Duvrart Angelo, Sriyadi “Srintil”, Hamzrut, Maong, Herianto Maidil, Faisal Aditiya, Didin Ardiansyah, Eko purnomo “Mbendhol”, Sri Wahyuningsih, Wardi Bajang, Dwi Setiawan, Aprilia Mutktirina, Agustian Eko Saputro, Herdhika Puspitasari, Joko Budianto, Ernanta Item, Budi “Bodhonk” Prakoso, Sri Ambarwati Lestari, Oetje Lamno, F. Slamet W, Sutrisno Abdee, Faried Pamor, Dodi Irwandi, Joelya Nuryanti, Ambar Pranasmara, Ismanto Wahyudi, Lanjar Jiwo, Khadir Supartini, Eva Dewa Masyitha, A. Bambang Harnawa, Sri Pramono, Andjar Purwanto, Digie Sigit, Malaikat, Nancy Imelda Nahuway, Dona Prawita, Lenny Ratnasari Weichert, Setu Legi, Bayu Wardana, Lelyana Kurniawati, Ulil Gama, Idris Brandy, Joni Candra, Tri Suharyanto, Fransgupita, Jitka Kampak, Daniel Rudi, Patrick CW.
Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini merupakan hasil refleksi dari fenomena yang dilihat para seniman di kantong-kantong buruh migran. Guna menyelami kehidupan komunitas buruh migran dan keluarganya, mereka rela untuk live-in di kantong komunitas migran di Cirebon, Cilacap, Kulon Progo, Jepara dan Blitar. Para seniman in berusaha membangun intensi dan mencoba mencerap persoalan secara lebih dekat dan nyata, yang dibarengi dengan diskusi bersama mengenai masalah yang ada. Dengan cara ini, karya yang dihasilkan lebih memiliki bobot perenungan dan sekaligus pesan yang lebih dalam.
Kegiatan live-in dan kampanye melalui seni adalah salah satu inisiatif yang didukung Yayasan Tifa untuk mendorong penyadaran yang lebih massif tentang isu buruh migran. Seni bisa membuka mata dan memperkaya imajinasi publik tentang kelompok-kelompok marjinal yang selalu tersisih dalam wacana mainstream di Indonesia. Inisiatif yang dilakukan Tritura ini adalah upaya yang mendorong seni tidak hanya seni namun juga bisa membebaskan.
Pameran ini dikuratori oleh Arahmaini, dan akan dibukan oleh Sosiolog Imam Prasodjo. Selain Yayasan Tifa, pameran seni untuk buruh migran ini juga didukung oleh Credit Union Sandya Swadaya, IWORK, Perkumpulan Peduli Buruh Migran, toekangpotret, GESTAPU, Dewan Kesenian Jakarta, Komnas Perempuan, Kons Musik dan Taman Ismail Marzuki.
Program Manager for Migrant Workers (PM)
Poverty Reduction Through Safety in Migration: Pilot Initiative
FAJAR, Senin, 26 Maret 2012.
WAJAH Demokrasi di Indonesia setelah reformasi sedikit demi sedikit bersolek.
Tifa@Media
- Mengembalikan Seni Sebagai Media Komunikasi Sosial
- Pemerintah Tak Maksimal Terapkan UU KIP
- Yayasan TIFA Gelar Duek Pakat Politik di Bireuen
- Anggaran Meningkat, Warga Masih Tak Menikmati Pendidikan
- Perumusan Kebijakan Publik Harus Transparan
- Penataan Keadilan Pemilu Minim-RUU Pemilu Dituntut Optimalkan Kewenangan Bawaslu




