Ihwal Tifa

Kejatuhan rejim Soeharto di tahun 1998 adalah tonggak perubahan dan mendorong berkembangan gerakan demokratisasi di Indonesia. Mendorong masyarakat yang lebih terbuka, adalah salah satu agenda yang menjadi perhatian, dan mendasari didirikannya Tifa pada tanggal 18 Desember 2000, oleh 10 (sepuluh) aktivis NGO dan akademisi. (link ke dewan pendiri)

Tifa percaya, dengan memperkuat masyarakat sipil di Indonesia, Tifa bisa mencapai misinya: memperjuangkan masyarakat terbuka di Indonesia, yang menghargai keragaman dan menjunjung tinggi hukum, keadilan dan kesetaraan.

Upaya memperkuat masyarakat sipil ini dilakukan melalui melalui pemberian dana hibah, penyelenggaraan berbagai kegiatan untuk merespon kondisi darurat yang mengancam keberadaan masyarakat terbuka dan mempercepat pencapaian program, termasuk memberikan bantuan teknis, serta membangun center of excellence bagi masyarakat sipil melalui produksi dan sharing pengetahuan.

Filosofi Nama & Logo

logo-icon-2x

Nama Tifa sengaja diambil dari instrumen musik khas timur Indonesia, Tifa: yang sering digunakan untuk menyebarluaskan gagasan perdamaian dan harmoni.

Tifa digambarkan dalam logonya sebagai elemen manusia: seseorang yang bergerak diantara struktur masyarakat yang kokoh. Warna hijau mencerminkan pertumbuhan dan penyembuhan sekaligus menggambarkan lautan yang mengelilingi dan menyatukan ribuan pulau di Indonesia, yang ditingkahi kreatifitas dan ide yang dilambangkan dengan warna oranye.