Pembina

felia-salimFelia Salim menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sejak tahun 2008. Sebelum diangkat menjadi Wakil Direktur, ia adalah Komisaris Independen BNI dari tahun 2004 – 2008. Di sektor keuangan, Felia telah menduduki beberapa jabatan penting di berbagai lembaga dan perusahaan Indonesia, termasuk posisinya sebagai Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 2001 dimana ia bertanggung jawab untuk mengawasi dan merestrukturisasi perbankan Indonesia dibawah kontrol BPPN; Ketua Sekretaris Komite Kebijakan Sektor Keuangan (2000 – 2001); Direktur PT Bursa Efek Jakarta (1994 – 1999); dan sebelumnya lagi sebagai Wakil Presiden Citibank Indonesia dan PT Jardin Flemming Nusantara. Felia juga aktif terlibat di sektor non-profit dan dikenal kiprahnya sebagai pendukung gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Ia merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa, sebuah organisasi yang memperjuangkan masyarakat terbuka di Indonesia, yang menghormati keragaman serta menjunjung tinggi penegakan hukum, keadilan, dan persamaan. Tahun 2003, Felia memimpin Tifa sebagai Pejabat Sementara Direktur Eksekutif, dan saat ini duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. Selain Tifa, Felia juga menjadi anggota Dewan Pengurus organisasi penyalur hibah lain yaitu Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Transparency International Indonesia; dan anggota Forum for Corporate Governance in Indonesia. Ia mendapatkan gelar S1 bidang Ekonomi dari Universitas Carleton, Ottawa, Kanada pada tahun 1983 dan meraih gelar S2 bidang Ekonomi Politik dari Universitas yang sama.

goenawan-mohamadGoenawan Mohamad adalah seorang sastrawan, penulis dan jurnalis terkemuka. Goenawan belajar Psikologi di Universitas Indonesia, Ilmu Politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pendiri majalah mingguan Tempo. Di tahun 1994, Tempo dilarang terbit oleh Pemerintah Indonesia karena mengeluarkan berita yang dianggap dapat membahayakan stabilitas negara. Tempo bangkit kembali setelah jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998. Pada tahun yang sama, Goenawan dianugerahi penghargaan International Press Freedom Award oleh Committee to Protect Journalists. Ia juga pernah menerima International Editor of the Year Award dari World Press Review, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1999; Louis Lyons Award dari Universitas Harvard, Amerika Serikat di tahun 1997; dan Professor Teeuw Award dari Universitas Leiden, Belanda di tahun 1992. Kumpulan karangan dan tulisannya di majalah Tempo telah diterbitkan dalam berbagai buku. Selain itu, Goenawan pernah mewakili Indonesia dalam konferensi Gedung Putih mengenai Budaya dan Diplomasi di Washington, D.C. yang diselenggarakan oleh Presiden Clinton dan Ibu Negara Hillary Clinton.

todung-mulya-lubisTodung Mulya Lubis adalah seorang Pengacara Indonesia terpandang dan pendiri kantor hukum Lubis Santosa & Maramis (sebelumnya Lubis Santosa & Maulana). Ia lulus dari fakultas hukum Universitas Indonesia pada tahun 1974; kemudian mengejar gelar Master of Law dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1978) dan Universitas Harvard, Amerika Serikat (1980); dan meraih gelar Doctor of Juridical Science dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1990). Sebagai seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Lubis pernah memegang posisi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor Timur; Penasihat Internasional untuk Human Rights Advocates di Berkeley, Amerika Serikat; dan Anggota Komisi HAM Asia di Hong Kong. Di dunia hukum, Lubis adalah Anggota International Bar Association, London, Inggris, dan Presiden Jakarta Lawyers Club. Saat ini, ia juga menjabat Ketua International Crisis Group (ICG) Indonesian Foundation; Ketua Asosiasi Konsultan Paten Terdaftar Indonesia; Ketua Dewan Etis Indonesian Corruption Watch (ICW); dan Arbiter International Chamber of Commerce (ICC), Perancis. Dari sejumlah buku yang pernah ditulisnya, publikasi terakhirnya berjudul Soeharto vs. Time: In Search of the Truth.

daniel-dhakidaeDaniel Dhakidae, seorang ahli politik, adalah pengamat dan analis peran media di Indonesia. Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, fakultas sosial dan politik tahun 1975, Dhakidae bekerja sebagai redaktur majalah Prisma. Majalah Prisma diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ia kemudian menjabat Ketua Dewan Redaksi sejak tahun 1979 dan ditunjuk menjadi Wakil Direktur LP3ES dari tahun 1982 – 1984. Tahun 1984, Dhakidae melanjutkan pendidikannya di Universitas Cornell, Ithaca, New York, mengambil jurusan Comparative Politics, Department of Government. Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar Master of Arts di bidang Ilmu Politik dan mendapatkan gelar Ph.D di bidang yang sama empat tahun kemudian. Disertasinya berjudul “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry” memenangkan Lauriston Sharp Prize tahun 1991 karena memberikan sumbangan luar biasa untuk perkembangan ilmu. Tamat dari Cornell University, Dhakidae bergabung dengan harian Kompas sebagai Kepala Litbang pada tahun 1994 – 2006. Ia juga aktif terlibat dalam berbagai organisasi non-profit. Selain menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan Tifa, ia adalah anggota Dewan Pengurus Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Yayasan Aksara; dan pendiri Indonesian Corruption Watch (ICW). Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain adalah “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” (2003) dan bersama Vedi R Hadiz mengedit buku “Social Science and Power in Indonesia” (2005).

Pengawas

Lukas-Resized


Lukas Luwarso merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa yang masih aktif terlibat dalam organisasi sebagai pengawas. Setamatnya dari jurusan Sastra, Universitas Diponego, Semarang, Lukas memulai kariernya sebagai jurnalis di harian Bisnis Indonesia. Ia kemudian pindah bekerja ke majalah Forum Keadilan, setahun setelahnya.

Kiprahnya sebagai seorang jurnalis membawanya ke berbagai posisi kunci dengan organisasi-organisasi terpandang, yang sebagian masih dijabatnya sampai hari ini. Posisi yang dipegangnya termasuk, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI); Direktur Eksekutif Southeast Asian Press Alliance (SEAPA); Anggota Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); dan Sekretaris Eksekutif Dewan Pers.

Lukas adalah seorang penulis sejati yang telah menulis dan mengedit puluhan buku, diantaranya Negara dalam Bahaya, Insiden 27 Juli, Megawati Soekarno Putri: Saya Tidak Akan Mundur, Indonesia dalam Transisi (2000), Advokasi Jurnalis (2001), Media dan Pemilu (2004), serta Kebebasan Pers dan Tekanan Hukum (2005). Lukas juga pernah mewakili Indonesia di berbagai forum internasional di seluruh dunia, dan sukses mendapatkan beasiswa Fulbright untuk mempelajari jurnalistik di University of Maryland, Amerika Serikat, pada tahun 2005.

Pengurus

RizalMalik-ResizedKetua Dewan Pengurus 

Rizal Malik adalah Ketua Dewan Pengurus Yayasan Tifa. Rizal juga merupakan seorang dosen luar biasa di Universitas Gajah Mada, mengajar tentang korupsi politik, kebijakan sosial dan keadilan sosial. Ia mempunyai segudang pengalaman memimpin organisasi-organisasi non-pemerintah (Non-Governmental Organizations – NGOs) di Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai Senior Communication Advisor di kantor World Bank Jakarta, dan sebagai Team Leader unit Democratic Governance di United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.

Rizal juga pernah memegang beberapa posisi strategis lain, termasuk posisi Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (2006 – 2008), Penasihat Senior dalam bidang Kebijakan Sosial di United Nations Support Facility for Indonesian Recovery (UNSFIR. 2004 – 2005), Manager untuk Program Asia Timur di Oxfam Hong Kong (2003 – 2004), Direktur Operasional di Kemitraan untuk Pembaruan Tata-Pemerintahan di Indonesia (2002 – 2003), Kepala Perwakilan Oxfam Great Britain untuk Indonesia (1998 – 2001), Penasehat Pengembangan Kelembagaan di Proyek Pembangunan Perkotaan Yogyakarta (Yogyakarta Urban Development Project. 1993 – 1997), Koordinator Pelatihan di Proyek Pembangunan Wilayah Sulawesi (Sulawesi Regional Development Project. 1990-1992), dan Kepala Perwakilan CARE International Indonesia di Sulawesi Tenggara (1989 – 1990).

Rizal pernah mengikuti pendidikan pasca sarjana di Cornell University, Amerika Serikat, dalam bidang Komunikasi, Kependudukan dan Kajian Asia Tenggara pada tahun 1984-1986, dan mendapatkan gelar Master dalam bidang Kajian Pembangunan dari University of East Anglia, UK, pada tahun 1995.

Riefki MunaM. Riefqi Muna yang dikenal sebagai pakar Pertahanan dan Keamanan adalah salah satu pendiri Research Institute for Democracy and Peace, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di lembaga tersebut. Ia mempelopori terbentuknya Indonesia-Australia Strategic Forum (IASFOR), sebuah forum bilateral untuk analisa strategi hubungan Indonesia dan Australia.

Riefqi memegang beberapa posisi lainnya, termasuk sebagai anggota pengurus Yayasan Tifa dan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasil penelitiannya antara lain “Civilian-Military Relations in Regional Military Command “(2000); “US Security Policy in East Asia” (2000); dan “Challenges for ASEAN Security for its Vision in 2020” (2001).

Selain itu, Riefqi telah mengikuti berbagai program pelatihan dari Australian Defense Force Academy, Canberra; Austrian Study Centre for Peace and Conflict Resolution (ASPR) di tahun 1998 mengenai penjagaan perdamaian di kalangan warga sipil; lalu dari European Peace University (EPU) pada tahun 1997; Asia Pacific Centre for Security Studies (APCSS), Hawaii, USA di tahun 1999; dan Preventive Diplomacy and Conflict Resolution in Washington D.C., di tahun yang sama, 1999. Ia merupakan salah seorang anggota pengurus Tifa yang juga aktif menulis di berbagai media, termasuk majalah berita mingguan, Tempo.

NelesTebay-ResizedPastor Neles Tebay, atau dikenal sebagai Pater Tebay adalah seorang pastor dari Papua dan koordinator Jaringan Damai Papua; organisasi yang mengkampanyekan hak-hak masyarakat lokal. Pater Tebay bergabung dengan Yayasan Tifa sebagai anggota pengurus di tahun 2009. Ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Jayapura, Papua.

Sepanjang hidupnya, Pater Tebay yang adalah masyarakat asli suku Mee, mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan bekerja dengan orang dari bermacam-macam negara. Ia lulus dari STFT Fajar Timur Seminari pada tahun 1990, kemudian mengambil S2 di East Asian Pastoral Institute, Ateneo de Manila University, Filipina, di tahun 1997, dan meraih gelar Doktor Filsafat dari Pontifical University Urbanianum, Roma, di tahun 2006.

Pengalamannya termasuk bekerja sebagai jurnalis koran Tifa Irian dan di koran bahasa Inggris The Jakarta Post. Hingga kini, Pater Tebay rajin menulis artikel tentang Papua di koran-koran nasional maupun internasional. Ia merupakan seorang aktivis yang terus mendorong dialog perdamaian antara Papua dengan Jakarta, dan juga telah menulis buku Papua Road Map bersama dengan Muridan S. Widjojo, sebagai solusi alternatif pemecahan masalah di Papua secara damai.

Debra Yatim-edit-resizedDebra Yatim yang telah lama berkiprah di dunia kesenian adalah seorang praktisi media dan pemilik sekaligus Direktur kantor konsultan public relations Komunikasi untuk Seni (Komseni). Komseni bekerja di bidang kampanye publik dan pemasaran sosial untuk budaya, persamaan gender, lingkungan, serta demokratisasi.Salah satu pendiri Yayasan Tifa ini, pernah mendapat penghargaan oleh Internews Media Leadership Award di Washington D.C., USA, di tahun 2007 atas upayanya dalam memimpin rekonstruksi pembangunan Aceh bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) setelah bencana tsunami 2004 yang menelan banyak korban dan keterlibatannya dalam membantu bencana alam Yogyakarta 2006. Debra adalah seorang aktivis sosial yang berjuang menyerukan persamaan hak, pluralisme dan keadilan untuk semua orang.

Beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam kampanye-kampanye besar, antara lain, edukasi pemilih melalui televisi, radio, dan diskusi masyarakat di 26 kota; pelatihan kemampuan advokasi untuk berbagai LSM lingkungan di Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara bersama USAID; kampanye perdamaian untuk perempuan Aceh bekerjasama dengan lebih dari 50 organisasi; serta kampanye untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan di media, dibawah UNIFEM/UNFPA Jakarta.

Debra juga sudah sering terlibat dalam kampanye untuk mempromosikan semangat multikulturalisme kepada anak-anak Indonesia melalui buku, museum, dan serial televisi. Selain itu, Debra pernah terlibat dalam kampanye yang mempromosikan seni tradisional di media massa dalam menghadapi perkembangan global pop culture bersama dengan Ford Foundation. Berpengalaman di radio dan televisi Australia, Debra menerima Professional Journalism Fellowship dari Stanford University, USA, dibawah dinas pemerintah Amerika, the National Endowment of the Humanities.

delimaDelima Kiswanti, ahli keuangan mikro dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang perbankan dan keuangan. Tahun 1986, Delima meraih gelar Insinyur dari jurusan Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar MBA di tahun 1993 dari Graduate School of Business Administration, University of Southern California, Los Angeles. Salah satu keberhasilan Delima adalah kontribusinya dalam mempersiapkan, mendirikan dan mendukung bank desa pertama di Papua. Sejak Oktober 2010, ia menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Andara; sebuah bank yang melayani lembaga-lembaga keuangan mikro, terutama dengan fokus misi sosial. Sebelum bergabung dengan Bank Andara, Delima pernah bekerja sebagai konsultan keuangan mikro di seluruh Indonesia, mencakup wilayah Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, Pontianak, Nias, Aceh dan Timor Timur. Sementara kariernya di bidang perbankan, termasuk bekerja di Citibank N.A., ING Indonesia Bank, dan sebagai Presiden Direktur di Bank Purba Danarta. Delima adalah seorang konsultan aktif, pelatih dan peneliti kegiatan keuangan, serta anggota Pengurus di sejumlah lembaga pembangunan sosial. Delima secara resmi bergabung dengan Yayasan Tifa pada Februari 2014.

nukeTri Nuke Pudjiastuti, Seorang ahli migrasi internasional, gender, konflik dan HAM, Tri Nuke Pudjiastuti adalah peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Ia adalah anggota peneliti di Kelompok Penelitian ASEAN sejak 2008 dan di Kelompok Penelitian Hubungan Indonesia – Taiwan sejak 2011. Kedua posisi ini masih dipegangnya hingga hari ini. Nuke memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti dan telah menghasilkan sejumlah publikasi dan tulisan selama lima tahun terakhir. Beberapa publikasi terakhirnya adalah “How to Address the Impact of Recruiter Agencies in Indonesian Migrant Workers?” yang dipresentasikan di Phnom Penh, Kamboja; “Implementing Human Rights and Democracy in International Relations: on Irregular Movement Case” dipresentasikan di Queensland, Australia; and “The Construction of Indonesian Traditional Fishing’s Involvement in the Activities of Migrants Smuggling to Australia as a Form of Structural Victimization” dipresentasikan di Kyoto, Jepang. Tahun 2014, Nuke meraih gelar Doktor dari Fakultas Kriminologi, Universitas Indonesia, dengan topik disertasi mengenai penyelundupan manusia. Beliau juga memegang gelar MA in Geography and Environmental Studies dari Universitas Adelaide, Australia, dengan fokus buruh migran Indonesia yang kembali ke negara asal dan gelar Sarjana jurusan Sastra Slavia dari Universitas Padjajaran, Indonesia. Selain itu, Nuke berpengalaman sebagai Project Manager untuk penelitian kompetitif LIPI mengenai isu strategis dan kritis dengan fokus pengentasan kemiskinan.

wiwikWiwiek Awiati merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Ia menjadi bagian dari dewan pengurus Yayasan Tifa sejak tahun 2015. Semasa karirnya, Wiwiek aktif di kegiatan masyarakat sipil dan pernah pernah menjadi Ketua di Indonesia Center for Environmental Law (ICEL). Beliau juga aktif terlibat sebagai koordinator tim Pembaruan Mahkamah Agung (MA) RI dan hingga saat ini, Wiwiek aktif menjadi pengajar senior mata kuliah Hukum Lingkungan dan Penyelesaian Sengketa di FHUI. Penyuka fotografi ini juga menjadi penasehat di Tim Pembaruan Mahakamah Agung RI hingga sekarang. Reformasi hukum dan pengadilan, hukum lingkungan dan alternatif resolusi konflik adalah beberapa bidang yang diampu oleh Wiwik.

Staff

darmawan1


Darmawan Triwibowo adalah Direktur Eksekutif untuk Yayasan Tifa.  Darmawan telah berpengalaman bekerja dalam isu hak asasi manusia dan kemajuan ekonomi selama lebih dari satu dekade, yang teranyar adalah bersama Oxfam di Indonesia dimana ia aktif terlibat dalam proses pembangunan pasca-2015 yang merupakan awal dari diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Latar belakangnya yang kuat di bidang advokasi kebijakan dan pengetahuannya yang luas mengenai masyarakat sipil di Asia Tenggara menjadi nilai tambah dalam kerja-kerjanya memimpin Yayasan Tifa.

Sebelumnya, Darmawan bekerja di Indonesia Parliamentary Center (IPC), sebuah organisasi advokasi yang mempromosikan parlemen yang efektif, dan Progressio, sebuah lembaga amal internasional di Timor Leste. Ia merupakan pendiri Perkumpulan Prakarsa, salah satu lembaga think-tank di Indonesia, yang mengkaji pembangunan berkelanjutan, kemiskinan dan ketimpangan, serta kebijakan fiskal dan kesejahteraan. Darmawan bisa dihubungi melalui email: darmawan@tifafoundation.org.

WhatsApp Image 2017-04-11 at 09.55.35


Chairul Ridjal bergabung dengan Yayasan Tifa tahun 2017 sebagai Office and Human Resource Manager, berbasis di Jakarta.  Ia memiliki lebih dari 15 tahun pengalaman dalam administrasi perkantoran dan sumber daya manusia serta memiliki keahlian teknologi informasi dan desain grafis yang kuat.

Ia sebelumnya bekerja pada The Cool (kantor bagian Indonesia) dimana selama lima tahun ia mengepalai divisi sumber daya manusia, administrasi umum, dan departemen teknologi informasi.  Ia membangun seksi sumber daya manusia dan mengembangkan kebijakan serta prosedur perusahaan untuk sumber daya manusia. Sebelum itu, selama tujuh tahun, ia menjalankan kantor dan mengawasi sumber daya manusia di Perkumpulan Prakarsa, salah satu lembaga think-tank di Indonesia.  Chairul memulai karirnya sebagai manajer bagian umum di Sinar Mas Group, Asia Pulp and Paper Corp, serta pernah bekerja di PT. Parastar Echorindo.

Chairul memiliki gelar BSc. Di manajemen agribisnis, fokus pada agrikultural sosial dan ekonomi, dari Institut Pertanian Bogor, Indonesia.  Ia juga menghadiri sejumlah pelatihan eksekutif manajemen untuk manajemen modal sumber daya manusia, pengembangan organisasi, pembinaan dan pebentukan tim dari Lembaga Management (Indonesia), Asian Institute of Management (Filipina), dan Sinar Mas Group’s Management Development Centre (Indonesia). Ia bisa dikontak melalui chairul.ridjal@tifafoundation.org.

Yussy


Yussy Purnami adalah Manager Keuangan Yayasan Tifa. Sebagai Manajer Keuangan, ia bertanggung jawab untuk memastikan kesehatan keuangan yayasan, mengawasi kegiatan rutin keuangan lembaga, mengembangkan strategi berdasarkan perencanaan keuangan dan analisis periodik dari risiko pemberian dana hibah. Yussy juga memastikan bahwa semua transaksi keuangan diproses sesuai dengan aturan penyandang dana dan prosedur akuntansi dan keuangan yang berlaku di Indonesia.

Yussy berpengalaman dalam mengelola keuangan, anggaran, dan dana hibah di sektor nirlaba selama lebih dari 15 tahun. Sebelumnya, Yussy bekerja di ASEAN Foundation selama sepuluh tahun. Pengalamannya menjadikannya sebagai seorang petugas keuangan dan akuntan senior di lembaga regional itu. Yussy juga pernah bekerja di Lembaga Studi dan Advokasi Masyrakat (ELSAM) di Jakarta sebagai akuntan. Yussy lulus sarjana bidang akuntansi di STIE Perbanas dan memperoleh gelar Master Bisnis Administrasi dari Universitas Gajah Mada, Indonesia. Yussy dapat dihubungi melalui email: yussy@tifafoundation.org.

Nova Photo ID


Nova Fransisca Silitonga adalah Program Manager untuk Yayasan Tifa dan berbasis di Jakarta. Sebagai Program Manager, Nova melakukan pengawasan terhadap alokasi dan pengelolaan dana hibah oleh Yayasan Tifa, termasuk memimpin kegiatan penggalangan dana. Sebelum bergabung dengan Tifa, dia bekerja dengan UNICEF Indonesia sebagai perwira kemitraan perusahaan. Sebelumnya, Nova bekerja untuk Sekretariat ASEAN dan pernah menjabat sebagai administrator program dan manajer beasiswa dari New Zealand Agency for International Development dan penasihat Dana Bantuan Akar Rumput Jepang ke Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Nova memiliki gelar pascasarjana dalam administrasi bisnis internasional dari Universitas Indonesia. Dia menerima beasiswa Uni Eropa untuk mendapatkan master di II livello dari Universitas Trento, Italia dan Mastergraad dari Universitas Regensburg di Jerman, fokus pada studi pembangunan daerah komparatif. Nova bisa dihubungi lewat email: nova@tifafoundation.org.

WhatsApp Image 2017-05-18 at 17.14.55


Diah (Dhanny) Tantri Dwiandani adalah Knowledge Management Specialist (KMS) untuk Yayasan Tifa dan berbasis di Jakarta. Sebagai KMS, Dhanny memastikan proses pengelolaan pengetahuan di  Yayasan Tifa bisa berjalan, sekaligus memastikan kerja-kerja dan isu fokus Yayasan Tifa terkomunikasikan melalui saluran komunikasi yang ada, baik situs maupun media sosial. Dhanny memiliki latar belakang dalam proyek lintas sektoral yang melibatkan tata pemerintahan yang baik dan Teknologi Informasi dan Komunikasi/Media. Sebelum bekerja dengan Tifa, dia bekerja sebagai Asia Economic Justice/GROW Campaign and Advocacy Officer di Oxfam Great Britain (GB) di Asia, dimana dia membantu memimpin kampanye digital di Asia Tenggara untuk pembiayaan adaptasi perubahan iklim. Sebelum itu, dia bekerja di sebuah proyek ASEAN untuk mempromosikan transparansi dan akuntabilitas di sektor ekstraktif di Natural Resource Governance Institute. Ketertarikannya pada produksi dan berbagi pengetahuan telah membawanya ke proyek seperti Satudunia dan Water SMS, yang fokus pada membangun komunikasi melalui telepon genggam untuk memetakan data guna memperbaiki layanan air bagi masyarakat miskin. Dhanny lulus dari Universitas Indonesia, jurusan komunikasi massa. Dhanny bisa dihubungi di email: diah@tifafoundation.org.

img1460882398000


Ega Rosalina adalah konsultan Communication Assitant (CA) di Yayasan Tifa. Sebagai CA, Ega bekerja membantu Knowledge Management Specialist (KMS) Yayasan Tifa untuk memastikan bahwa proses pengelolaan pengetahuan mengenai kerja-kerja dan isu fokus Yayasan Tifa berjalan baik. Selain itu, ia juga bertanggung jawab membuat berbagai konten baik berupa tulisan maupun infografis terkait kerja-kerja Yayasan Tifa dan memuat serta menyebarkannya melalui saluran yang ada seperti situs dan media sosial organisasi. Sebelum bergabung dengan Yayasan Tifa, Ega sempat aktif di Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada transparansi, akuntabilitas pelayanan publik, dan pengelolaan keuangan publik, pertama sebagai asisten program dan kemudian dipromosikan menjadi Media and Communication Officer. Ia juga pernah bekerja sebagai jurnalis di Liputan6.com. Ega lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Jakarta. Ega dapat dihubungi melalui email: ega@tifafoundation.org.

Fira Photo ID


Syafirah (Fira) Hardani adalah Program Officer (PO) Justice Reform and Rule of Law di Yayasan Tifa yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Sebagai PO, Fira mengampu sub tema Akses Keadilan terkait advokasi bantuan hukum structural di Indonesia dan Keadilan Transisi yang salah satunya terkait isu-isu pelanggaran HAM masa lalu. Fira memiliki pengalaman signifikan dalam bidang hak-hak perempuan dan keadilan sosial. Dia memulai karirnya di Pusat Krisis Wanita Rifka Annisa, Yogjakarta. Dia telah bekerja sebagai peneliti lapangan untuk perdagangan manusia di Kalimantan Barat, sebelum kemudian bergabung dengan American Center for International sebagai Project Officer untuk Proyek Penanggulangan Perdagangan Orangutan. Fira juga bekerja di United Nations Development Fund for Women (UNIFEM, sekarang UN Women) sebagai koordinator nasional untuk pelaksanaan Committee on the Elimination of Discrimination against Women (CEDAW) di Indonesia. Dia juga pernah bekerja dengan Yayasan Pulih dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sebagai petugas gender dan hak asasi manusia. Fira memegang gelar master dalam studi pembangunan dari Universitas Auckland dan menerima gelar sarjana hukum dari Universitas Gadjah Mada. Fira bisa dihubungi melalui email: syafirah@tifafoundation.org.

donny


Donny Ardyanto adalah konsultan Program Advisor for Legal Empowerment di Yayasan Tifa. Sebelum bergabung dengan Yayasan Tifa, ia bekerja di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai Direktur Penelitian dan Pengembangan. Donny berfokus pada penelitian dan advokasi kebijakan, terutama mengenai bantuan hukum dan akses terhadap keadilan di Indonesia. Donny juga mewakili YLBHI sebagai co-chair di Kelompok Kerja Nasional untuk Mencapai Tujuan 16 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia. Donny telah bekerja dengan beberapa organisasi sejak menjadi mahasiswa Departemen Kriminologi di Universitas Indonesia, yaitu Indonesian Corruption Watch (ICW), berantaS, Imparsial, dan P2D. Ia juga mendapat gelar magister manajemen pembangunan sosial dari Universitas Indonesia. Donny dapat dihubungi melalui email: donny@tifafoundation.org

Miranti Photo ID


Miranti (Mira) Hussein adalah Program Officer (PO) Open and Diversity dengan Yayasan Tifa dan berbasis di Jakarta, Indonesia. Sebagai PO, Mira saat ini mengampu kerja-kerja Yayasan Tifa terkait Inclusive Democratic Practices untuk isu Papua dan akses keadilan bagi kelompok agama minoritas dan kelompok migran. Dia memiliki latar belakang dalam penelitian dan analisis seputar penanganan bencana, pembangunan perdamaian dan isu-isu demokratisasi. Sebelum bergabung dengan Yayasan Tifa, dia bekerja untuk isu pengurangan risiko bencana bersama Australia di Fasilitas Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia dan sebagai peneliti untuk Institute for Policy and Community Development Studies (IPCOS) – sebuah lembaga penelitian independen yang bekerja untuk demokratisasi, pemerintahan yang baik, dan isu sipil/militer. Mira telah bekerja untuk berbagai organisasi internasional di Indonesia, termasuk kerja membangun-perdamaian dengan Catholic Relief Service (CRS) dan pemulihan ekonomi pascakonflik dengan Church World Services (CWS). Mira memperoleh gelar Master Sosilogi dari Universitas Indonesia. Mira dapat dihubungi melalui email: miranti@tifafoundation.org.

indri


Indriyani (Indri) Sugiharto adalah konsultan Program Assistant di Yayasan Tifa dan berbasis di Jakarta. Indri bertugas untuk mengelola administrasi dan teknis operating grant di Yayasan Tifa. Sebelum bergabung dengan Yayasan Tifa Tifa, Indri bekerja di Sekolah untuk Pekerja Rumah Tangga di Yogyakarta, mengajar kelas bahasa Inggris untuk pekerja rumah tangga, dan memfasilitasi pelatihan menulis dan media sosial. Dia juga menulis tentang isu gender untuk Jurnal Feminis Indonesia. Di universitas, Indri terlibat dalam proyek penelitian yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, pendidikan tinggi, dan lingkungan. Dia juga bekerja sebagai koordinator pengembangan sumber daya di Gadjah Mada Diving Society. Indri adalah lulusan filsafat dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Dia bisa dihubungi melalui email: indriyani@tifafoundation.org.


Sri Nurlia Wuliyanti adalah Grant Officer (GO) untuk hibah Yayasan Tifa dan berbasis di Jakarta, Indonesia. Sebagai GO, Nurlia memastikan segala proses dan prosedur kepatuhan untuk dana hibah dilaksanakan sebelum, pada saat, dan sesudah program berjalan. Sebelum bergabung dengan Yayasan Tifa, Nurlia bekerja sebagai manajer hibah pada program kehutanan multi pihak yang didanai oleh Department for International Development (DFID). Dia memiliki latar belakang dalam pengelolaan dana hibah dan audit hibah. Nurlia memiliki gelar sarjana di bidang akuntansi dari Universitas Indonesia. Nurlia bisa dihubungi melalui email: nurlia@tifafoundation.org.

image009


Bernadetha Chelvi Yuliastuti adalah General Affair Staff (GAS) Yayasan Tifa di Jakarta. Sebagai GAS, Chelvi melakukan tugas kesekretariatan kantor dan membantu Office dan HR Manager mengelola operasional kantor Yayasan Tifa. Chelvi sebelumnya bekerja selama enam tahun bersama Perkumpulan Prakarsa, pertama sebagai asisten program sebelum dipromosikan menjadi Human Resources and Administrative Officer. Sebelum itu, Chelvi bekerja di bidang pemasaran dan layanan pelanggan di PT. Ridho Mitra Valasindo. Chelvi suka bergabung dalam dunia relawan untuk tujuan kemanusiaan, termasuk dalam kelompok relawan di Yogyakarta dan sebagai asisten koordinator pemulihan pasca gempa di Bantul. Chelvi lulus dengan gelar sarjana hukum, dengan jurusan hukum negara, dari Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, Indonesia. Chelvi dapat dihubungi melalui chelvi@tifafoundation.org.

SONY DSC


Triwahyuni (Tri) Hartati adalah Finance Staff di Yayasan Tifa. Tri bertanggung jawab atas transaksi harian dan alur kas pembayaran di Yayasan Tifa. Sebelumnya, Tri pernah bekerja di kantor keuangan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Pemahaman Peradilan Indonesia (MaPPI FHUI), program fakultas hukum Universitas Indonesia yang memantau independensi peradilan. Triwahyuni memiliki gelar akuntansi dari Universitas Indonesia. Tri bisa dihubungi melalui email: tri@tifafoundation.org.