Struktur Organisasi

PEMBINA

felia-salimFelia Salim menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sejak tahun 2008. Sebelum diangkat menjadi Wakil Direktur, ia adalah Komisaris Independen BNI dari tahun 2004 – 2008. Di sektor keuangan, Felia telah menduduki beberapa jabatan penting di berbagai lembaga dan perusahaan Indonesia, termasuk posisinya sebagai Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 2001 dimana ia bertanggung jawab untuk mengawasi dan merestrukturisasi perbankan Indonesia dibawah kontrol BPPN; Ketua Sekretaris Komite Kebijakan Sektor Keuangan (2000 – 2001); Direktur PT Bursa Efek Jakarta (1994 – 1999); dan sebelumnya lagi sebagai Wakil Presiden Citibank Indonesia dan PT Jardin Flemming Nusantara. Felia juga aktif terlibat di sektor non-profit dan dikenal kiprahnya sebagai pendukung gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Ia merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa, sebuah organisasi yang memperjuangkan masyarakat terbuka di Indonesia, yang menghormati keragaman serta menjunjung tinggi penegakan hukum, keadilan, dan persamaan. Tahun 2003, Felia memimpin Tifa sebagai Pejabat Sementara Direktur Eksekutif, dan saat ini duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. Selain Tifa, Felia juga menjadi anggota Dewan Pengurus organisasi penyalur hibah lain yaitu Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Transparency International Indonesia; dan anggota Forum for Corporate Governance in Indonesia. Ia mendapatkan gelar S1 bidang Ekonomi dari Universitas Carleton, Ottawa, Kanada pada tahun 1983 dan meraih gelar S2 bidang Ekonomi Politik dari Universitas yang sama.

goenawan-mohamadGoenawan Mohamad adalah seorang sastrawan, penulis dan jurnalis terkemuka. Goenawan belajar Psikologi di Universitas Indonesia, Ilmu Politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pendiri majalah mingguan Tempo. Di tahun 1994, Tempo dilarang terbit oleh Pemerintah Indonesia karena mengeluarkan berita yang dianggap dapat membahayakan stabilitas negara. Tempo bangkit kembali setelah jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998. Pada tahun yang sama, Goenawan dianugerahi penghargaan International Press Freedom Award oleh Committee to Protect Journalists. Ia juga pernah menerima International Editor of the Year Award dari World Press Review, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1999; Louis Lyons Award dari Universitas Harvard, Amerika Serikat di tahun 1997; dan Professor Teeuw Award dari Universitas Leiden, Belanda di tahun 1992. Kumpulan karangan dan tulisannya di majalah Tempo telah diterbitkan dalam berbagai buku. Selain itu, Goenawan pernah mewakili Indonesia dalam konferensi Gedung Putih mengenai Budaya dan Diplomasi di Washington, D.C. yang diselenggarakan oleh Presiden Clinton dan Ibu Negara Hillary Clinton.

todung-mulya-lubisTodung Mulya Lubis adalah seorang Pengacara Indonesia terpandang dan pendiri kantor hukum Lubis Santosa & Maramis (sebelumnya Lubis Santosa & Maulana). Ia lulus dari fakultas hukum Universitas Indonesia pada tahun 1974; kemudian mengejar gelar Master of Law dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1978) dan Universitas Harvard, Amerika Serikat (1980); dan meraih gelar Doctor of Juridical Science dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1990). Sebagai seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Lubis pernah memegang posisi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor Timur; Penasihat Internasional untuk Human Rights Advocates di Berkeley, Amerika Serikat; dan Anggota Komisi HAM Asia di Hong Kong. Di dunia hukum, Lubis adalah Anggota International Bar Association, London, Inggris, dan Presiden Jakarta Lawyers Club. Saat ini, ia juga menjabat Ketua International Crisis Group (ICG) Indonesian Foundation; Ketua Asosiasi Konsultan Paten Terdaftar Indonesia; Ketua Dewan Etis Indonesian Corruption Watch (ICW); dan Arbiter International Chamber of Commerce (ICC), Perancis. Dari sejumlah buku yang pernah ditulisnya, publikasi terakhirnya berjudul Soeharto vs. Time: In Search of the Truth.

daniel-dhakidaeDaniel Dhakidae, seorang ahli politik, adalah pengamat dan analis peran media di Indonesia. Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, fakultas sosial dan politik tahun 1975, Dhakidae bekerja sebagai redaktur majalah Prisma. Majalah Prisma diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ia kemudian menjabat Ketua Dewan Redaksi sejak tahun 1979 dan ditunjuk menjadi Wakil Direktur LP3ES dari tahun 1982 – 1984. Tahun 1984, Dhakidae melanjutkan pendidikannya di Universitas Cornell, Ithaca, New York, mengambil jurusan Comparative Politics, Department of Government. Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar Master of Arts di bidang Ilmu Politik dan mendapatkan gelar Ph.D di bidang yang sama empat tahun kemudian. Disertasinya berjudul “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry” memenangkan Lauriston Sharp Prize tahun 1991 karena memberikan sumbangan luar biasa untuk perkembangan ilmu. Tamat dari Cornell University, Dhakidae bergabung dengan harian Kompas sebagai Kepala Litbang pada tahun 1994 – 2006. Ia juga aktif terlibat dalam berbagai organisasi non-profit. Selain menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan Tifa, ia adalah anggota Dewan Pengurus Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Yayasan Aksara; dan pendiri Indonesian Corruption Watch (ICW). Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain adalah “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” (2003) dan bersama Vedi R Hadiz mengedit buku “Social Science and Power in Indonesia” (2005).

PENGAWAS

tosca-santosoTosca Santoso adalah seorang jurnalis veteran yang memiliki rekam jejak panjang dengan berbagai institusi, antara lain Lembaga Kantor Berita Nasional, harian Bisnis Indonesia, majalah mingguan Forum Keadilan, dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Tahun 1994 bersama rekan-rekannya Tosca merintis pendirian Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Ia juga pernah bekerja sebagai Editor majalah Suara Independen, sebuah majalah bawah tanah yang berjuang melawan sensor terhadap media, dan pernah menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) di tahun 1998. Semangatnya untuk menyebarkan informasi bagi masyarakat kemudian mendorongnya mendirikan Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) di tahun 2000, stasiun radio inovatif yang menyiarkan berita melalui radio dan internet ke lebih dari 900 stasiun radio di Indonesia dan 10 negara lainnya; Afganistan, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Filipina, Malaysia, Kamboja, Timor Leste, Nepal dan Pakistan. Lulusan Institut Pertanian Bogor ini telah menerima sejumlah penghargaan atas dedikasinya terhadap pembangunan Indonesia; di tahun 1995, Tosca menerima Rob Bakker Award dari International Federation of Journalists; Social Entrepreneur of the Year 2010 Award dari Ernst & Young; dan Knight International Journalism Awards 2010 dari International Center for Journalists (ICFJ) – sebuah organisasi pembela kebebasan pers yang berbasis di Amerika Serikat – untuk upayanya melawan korupsi dan memberdayakan warga negara. Stasiun radionya KBR68H juga pernah mendapat penghargaan King Baudoin International Development Prize (2008 – 2009).

PENGURUS

RizalMalik-ResizedKETUA

Rizal Malik adalah Dosen luar biasa di Universitas Gajah Mada, mengajar tentang korupsi politik, kebijakan sosial dan keadilan sosial. Ia mempunyai segudang pengalaman memimpin organisasi-organisasi non-pemerintah (Non-Governmental Organizations – NGOs) di Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai Senior Communication Advisor di kantor World Bank Jakarta, dan sebagai Team Leader unit Democratic Governance di United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.

Rizal juga pernah memegang beberapa posisi strategis lain, termasuk posisi Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (2006 – 2008), Penasihat Senior dalam bidang Kebijakan Sosial di United Nations Support Facility for Indonesian Recovery (UNSFIR. 2004 – 2005), Manager untuk Program Asia Timur di Oxfam Hong Kong (2003 – 2004), Direktur Operasional di Kemitraan untuk Pembaruan Tata-Pemerintahan di Indonesia (2002 – 2003), Kepala Perwakilan Oxfam Great Britain untuk Indonesia (1998 – 2001), Penasehat Pengembangan Kelembagaan di Proyek Pembangunan Perkotaan Yogyakarta (Yogyakarta Urban Development Project. 1993 – 1997), Koordinator Pelatihan di Proyek Pembangunan Wilayah Sulawesi (Sulawesi Regional Development Project. 1990-1992), dan Kepala Perwakilan CARE International Indonesia di Sulawesi Tenggara (1989 – 1990).

Rizal pernah mengikuti pendidikan pasca sarjana di Cornell University, Amerika Serikat, dalam bidang Komunikasi, Kependudukan dan Kajian Asia Tenggara pada tahun 1984-1986, dan mendapatkan gelar Master dalam bidang Kajian Pembangunan dari University of East Anglia, UK, pada tahun 1995.


Lukas-Resized
Lukas Luwarso merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa yang masih aktif terlibat dalam organisasi sebagai anggota pengurus. Setamatnya dari jurusan Sastra, Universitas Diponego, Semarang, Lukas memulai kariernya sebagai jurnalis di harian Bisnis Indonesia. Ia kemudian pindah bekerja ke majalah Forum Keadilan, setahun setelahnya.

Kiprahnya sebagai seorang jurnalis membawanya ke berbagai posisi kunci dengan organisasi-organisasi terpandang, yang sebagian masih dijabatnya sampai hari ini. Posisi yang dipegangnya termasuk, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI); Direktur Eksekutif Southeast Asian Press Alliance (SEAPA); Anggota Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); dan Sekretaris Eksekutif Dewan Pers.

Lukas adalah seorang penulis sejati yang telah menulis dan mengedit puluhan buku, diantaranya Negara dalam Bahaya, Insiden 27 Juli, Megawati Soekarno Putri: Saya Tidak Akan Mundur, Indonesia dalam Transisi (2000), Advokasi Jurnalis (2001), Media dan Pemilu (2004), serta Kebebasan Pers dan Tekanan Hukum (2005). Lukas juga pernah mewakili Indonesia di berbagai forum internasional di seluruh dunia, dan sukses mendapatkan beasiswa Fulbright untuk mempelajari jurnalistik di University of Maryland, Amerika Serikat, pada tahun 2005.

Riefki MunaM. Riefqi Muna yang dikenal sebagai pakar Pertahanan dan Keamanan adalah salah satu pendiri Research Institute for Democracy and Peace, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di lembaga tersebut. Ia mempelopori terbentuknya Indonesia-Australia Strategic Forum (IASFOR), sebuah forum bilateral untuk analisa strategi hubungan Indonesia dan Australia.

Riefqi memegang beberapa posisi lainnya, termasuk sebagai anggota pengurus Yayasan Tifa dan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasil penelitiannya antara lain “Civilian-Military Relations in Regional Military Command “(2000); “US Security Policy in East Asia” (2000); dan “Challenges for ASEAN Security for its Vision in 2020” (2001).

Selain itu, Riefqi telah mengikuti berbagai program pelatihan dari Australian Defense Force Academy, Canberra; Austrian Study Centre for Peace and Conflict Resolution (ASPR) di tahun 1998 mengenai penjagaan perdamaian di kalangan warga sipil; lalu dari European Peace University (EPU) pada tahun 1997; Asia Pacific Centre for Security Studies (APCSS), Hawaii, USA di tahun 1999; dan Preventive Diplomacy and Conflict Resolution in Washington D.C., di tahun yang sama, 1999. Ia merupakan salah seorang anggota pengurus Tifa yang juga aktif menulis di berbagai media, termasuk majalah berita mingguan, Tempo.


Luthfi-Resized
Luthfi Assyaukanie adalah pengajar senior di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Wakil Direktur Freedom Institute – sebuah pusat studi untuk demokrasi, nasionalisme dan ekonomi pasar. Lahir di Jakarta, Indonesia, Assyaukanie mengenyam pendidikan awalnya di institusi religius.

Ia melanjutkan studi ke University of Jordan, jurusan Hukum Islam dan Filsafat, lalu mendapatkan gelar Master dari International Islamic University di Malaysia, dan kemudian meraih gelar Ph.D dalam bidang Islamic Studies dari Melbourne University, Australia. Thesis Ph.Dnya memenangkan penghargaan Chancellor’s Prize 2007. Assyaukanie juga telah mendapatkan berbagai beasiswa, antara lain, Australian Development Scholarship (Australia), the Institute of Islamic Thought and Civilization Scholarship (Malaysia), dan Ministry of Education Scholarship (Yordania). Sebelum berkuliah ke negeri kangguru, Assyaukani pernah bekerja di majalah Ummat sebagai editor.

Pada tahun 2001, bersama-sama dengan Ulil Abshar Abdalla, ia membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL) dan saat ini menjabat sebagai anggota Pengurus JIL. Ia juga menjadi anggota pengurus Maarif Institute, serta dewan pengurus Yayasan Tifa. Selain berkontribusi terhadap serangkaian majalah dan koran nasional, termasuk Tempo, Kompas, Media Indonesia, dan Jawa Pos, Assyaukanie telah menulis tiga buku dan menyumbang sekitar 50 entri di dua ensiklopedi Indonesia. Buku-buku yang pernah dieditnya, antara lain, “Freedom, the State, and Development: Arief Budiman’s Essays,” “Faces of Liberal Islam in Indonesia,” dan “Politics, Human Rights, and The Issues of Technology in Contemporary Islamic Law.”


NelesTebay-Resized
Pastor Neles Tebay, atau dikenal sebagai Pater Tebay adalah seorang pastor dari Papua dan koordinator Jaringan Damai Papua; organisasi yang mengkampanyekan hak-hak masyarakat lokal. Pater Tebay bergabung dengan Yayasan Tifa sebagai anggota pengurus di tahun 2009. Ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Jayapura, Papua.

Sepanjang hidupnya, Pater Tebay yang adalah masyarakat asli suku Mee, mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan bekerja dengan orang dari bermacam-macam negara. Ia lulus dari STFT Fajar Timur Seminari pada tahun 1990, kemudian mengambil S2 di East Asian Pastoral Institute, Ateneo de Manila University, Filipina, di tahun 1997, dan meraih gelar Doktor Filsafat dari Pontifical University Urbanianum, Roma, di tahun 2006.

Pengalamannya termasuk bekerja sebagai jurnalis koran Tifa Irian dan di koran bahasa Inggris The Jakarta Post. Hingga kini, Pater Tebay rajin menulis artikel tentang Papua di koran-koran nasional maupun internasional. Ia merupakan seorang aktivis yang terus mendorong dialog perdamaian antara Papua dengan Jakarta, dan juga telah menulis buku Papua Road Map bersama dengan Muridan S. Widjojo, sebagai solusi alternatif pemecahan masalah di Papua secara damai.

Debra Yatim-edit-resizedDebra Yatim yang telah lama berkiprah di dunia kesenian adalah seorang praktisi media dan pemilik sekaligus Direktur kantor konsultan public relations Komunikasi untuk Seni (Komseni). Komseni bekerja di bidang kampanye publik dan pemasaran sosial untuk budaya, persamaan gender, lingkungan, serta demokratisasi.Salah satu pendiri Yayasan Tifa ini, pernah mendapat penghargaan oleh Internews Media Leadership Award di Washington D.C., USA, di tahun 2007 atas upayanya dalam memimpin rekonstruksi pembangunan Aceh bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) setelah bencana tsunami 2004 yang menelan banyak korban dan keterlibatannya dalam membantu bencana alam Yogyakarta 2006. Debra adalah seorang aktivis sosial yang berjuang menyerukan persamaan hak, pluralisme dan keadilan untuk semua orang.

Beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam kampanye-kampanye besar, antara lain, edukasi pemilih melalui televisi, radio, dan diskusi masyarakat di 26 kota; pelatihan kemampuan advokasi untuk berbagai LSM lingkungan di Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara bersama USAID; kampanye perdamaian untuk perempuan Aceh bekerjasama dengan lebih dari 50 organisasi; serta kampanye untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan di media, dibawah UNIFEM/UNFPA Jakarta.

Debra juga sudah sering terlibat dalam kampanye untuk mempromosikan semangat multikulturalisme kepada anak-anak Indonesia melalui buku, museum, dan serial televisi. Selain itu, Debra pernah terlibat dalam kampanye yang mempromosikan seni tradisional di media massa dalam menghadapi perkembangan global pop culture bersama dengan Ford Foundation. Berpengalaman di radio dan televisi Australia, Debra menerima Professional Journalism Fellowship dari Stanford University, USA, dibawah dinas pemerintah Amerika, the National Endowment of the Humanities.

Melly-ResizedMelli Darsa adalah seorang pengacara terkenal di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 22 tahun di bidang sekuritas & pasar modal, merger & akuisisi, dan perbankan & keuangan. Ia memegang gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia (1990) dan Master of Law dari Harvard Law School, Amerika Serikat (1994). Melli sudah mulai bekerja sebagai pengacara sejak lulus kuliah tahun 1990, dan mendapatkan izin untuk praktek hukum di Negara Bagian New York, Amerika Serikat, tahun 1996.

Setelah mengumpulkan pengalaman di berbagai kantor pengacara papan atas, termasuk Hadiputranto, Hadinoto & Partners – anggota firma internasional Baker & McKenzie, Melli mendirikan firmanya sendiri yang dinamakan Melli Darsa & Co. (MDC) di tahun 2002. Ia mempunyai minat terhadap pembangunan integritas serta isu anti-korupsi, dan semakin mendalami bidang ini melalui jabatannya sebagai pendiri Strategic Reform Indonesia dan Presiden Perhimpunan Alumni Hukum, Universitas Indonesia.

Selain menjabat sebagai anggota Pengurus Yayasan Tifa, Melli juga merupakan konsultan hukum yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), dan anggota Badan Kehormatan Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) periode 2012 – 2015. Sebelum menjadi anggota Badan Kehormatan, Melli adalah Wakil Ketua HKHPM, menaungi bidang Pendidikan Hukum Dasar dan Lanjutan. Selama 12 tahun terakhir ia pernah menangani beberapa transaksi paling kompleks di Indonesia. Di tahun 2012, majalah Asian Legal Business mencatatnya sebagai salah satu pengacara perempuan paling berpengaruh di Asia.

delimaDelima Kiswanti, ahli keuangan mikro dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang perbankan dan keuangan. Tahun 1986, Delima meraih gelar Insinyur dari jurusan Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar MBA di tahun 1993 dari Graduate School of Business Administration, University of Southern California, Los Angeles. Salah satu keberhasilan Delima adalah kontribusinya dalam mempersiapkan, mendirikan dan mendukung bank desa pertama di Papua. Sejak Oktober 2010, ia menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Andara; sebuah bank yang melayani lembaga-lembaga keuangan mikro, terutama dengan fokus misi sosial. Sebelum bergabung dengan Bank Andara, Delima pernah bekerja sebagai konsultan keuangan mikro di seluruh Indonesia, mencakup wilayah Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, Pontianak, Nias, Aceh dan Timor Timur. Sementara kariernya di bidang perbankan, termasuk bekerja di Citibank N.A., ING Indonesia Bank, dan sebagai Presiden Direktur di Bank Purba Danarta. Delima adalah seorang konsultan aktif, pelatih dan peneliti kegiatan keuangan, serta anggota Pengurus di sejumlah lembaga pembangunan sosial. Delima secara resmi bergabung dengan Yayasan Tifa pada Februari 2014.

nukeTri Nuke Pudjiastuti, Seorang ahli migrasi internasional, gender, konflik dan HAM, Tri Nuke Pudjiastuti adalah peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Ia adalah anggota peneliti di Kelompok Penelitian ASEAN sejak 2008 dan di Kelompok Penelitian Hubungan Indonesia – Taiwan sejak 2011. Kedua posisi ini masih dipegangnya hingga hari ini. Nuke memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti dan telah menghasilkan sejumlah publikasi dan tulisan selama lima tahun terakhir. Beberapa publikasi terakhirnya adalah “How to Address the Impact of Recruiter Agencies in Indonesian Migrant Workers?” yang dipresentasikan di Phnom Penh, Kamboja; “Implementing Human Rights and Democracy in International Relations: on Irregular Movement Case” dipresentasikan di Queensland, Australia; and “The Construction of Indonesian Traditional Fishing’s Involvement in the Activities of Migrants Smuggling to Australia as a Form of Structural Victimization” dipresentasikan di Kyoto, Jepang.Saat ini Nuke sedang melanjutkan studi S3 di Fakultas Kriminologi, Universitas Indonesia, dengan topik disertasi mengenai penyelundupan manusia. Beliau memegang gelar MA in Geography and Environmental Studies dari Universitas Adelaide, Australia, dengan fokus buruh migran Indonesia yang kembali ke negara asal dan gelar Sarjana jurusan Sastra Slavia dari Universitas Padjajaran, Indonesia. Selain itu, Nuke juga berpengalaman sebagai Project Manager untuk penelitian kompetitif LIPI mengenai isu strategis dan kritis dengan fokus pengentasan kemiskinan.

Staff

Direktur Eksekutif:

Irman G. Lanti

Program

HAM & Keadilan

Manager: Renata Arianingtyas

Officer: Samuel Gultom

Demokrasi & Pemerintahan

Manager: Mickael B. Hoelman

Officer: Herryadi

Media & Informasi

Manager: R. Kristiawan

Officer: Tanti B. Suryani

Program Buruh Migran

Program Manager: Renata Arianingtyas

Proyek Poverty Reduction through Safety in Migration

Project Manager: Muhamad Nour

Monitoring & Evaluation Specialist: Nani Vindanita Ekasari

Gender Specialist: Isja Dini Uljati

Access to Finance Specialist: Khres A. Senduk

Access to Justice Specialist: Wirawan

Project Officer (NTB): Muhammad Shaleh

Project Officer (NTT): Yohannes Berchmans Bria

Field Officer: -

Finance & Grant Officer : Debora Meice Siano

Finance

Finance Manager: Ezra Kaban

Treasurer: Anugrah Nindita Maharkesri

Accountant: Ruben Tedjasukmana

Grant & Knowledge Management

Grant & Knowledge Manager: Sri Aryani

Grant Officer: Yeni Oktriani

Junior Grant Officer: Anela Eka Sari

Program Administration Staff: Maya Marlin Damamain

Communications Officer:  Ayu D. F. Siahaan

Human Resource & Office Department

Office & Human Resources Manager: Riza Boris

Office Information Communication & Technology Administrator: Ferry Fernando

Office Staff: Faturrahman

Receptionist/Secretary: Vita Airlanggia

Office Support: Muhajirin, Sulistiani

Security Officer: Tukijan