Insert your content here

Pembina

felia-salimFelia Salim menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sejak tahun 2008. Sebelum diangkat menjadi Wakil Direktur, ia adalah Komisaris Independen BNI dari tahun 2004 – 2008. Di sektor keuangan, Felia telah menduduki beberapa jabatan penting di berbagai lembaga dan perusahaan Indonesia, termasuk posisinya sebagai Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 2001 dimana ia bertanggung jawab untuk mengawasi dan merestrukturisasi perbankan Indonesia dibawah kontrol BPPN; Ketua Sekretaris Komite Kebijakan Sektor Keuangan (2000 – 2001); Direktur PT Bursa Efek Jakarta (1994 – 1999); dan sebelumnya lagi sebagai Wakil Presiden Citibank Indonesia dan PT Jardin Flemming Nusantara. Felia juga aktif terlibat di sektor non-profit dan dikenal kiprahnya sebagai pendukung gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Ia merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa, sebuah organisasi yang memperjuangkan masyarakat terbuka di Indonesia, yang menghormati keragaman serta menjunjung tinggi penegakan hukum, keadilan, dan persamaan. Tahun 2003, Felia memimpin Tifa sebagai Pejabat Sementara Direktur Eksekutif, dan saat ini duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. Selain Tifa, Felia juga menjadi anggota Dewan Pengurus organisasi penyalur hibah lain yaitu Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Transparency International Indonesia; dan anggota Forum for Corporate Governance in Indonesia. Ia mendapatkan gelar S1 bidang Ekonomi dari Universitas Carleton, Ottawa, Kanada pada tahun 1983 dan meraih gelar S2 bidang Ekonomi Politik dari Universitas yang sama.

goenawan-mohamadGoenawan Mohamad adalah seorang sastrawan, penulis dan jurnalis terkemuka. Goenawan belajar Psikologi di Universitas Indonesia, Ilmu Politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pendiri majalah mingguan Tempo. Di tahun 1994, Tempo dilarang terbit oleh Pemerintah Indonesia karena mengeluarkan berita yang dianggap dapat membahayakan stabilitas negara. Tempo bangkit kembali setelah jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998. Pada tahun yang sama, Goenawan dianugerahi penghargaan International Press Freedom Award oleh Committee to Protect Journalists. Ia juga pernah menerima International Editor of the Year Award dari World Press Review, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1999; Louis Lyons Award dari Universitas Harvard, Amerika Serikat di tahun 1997; dan Professor Teeuw Award dari Universitas Leiden, Belanda di tahun 1992. Kumpulan karangan dan tulisannya di majalah Tempo telah diterbitkan dalam berbagai buku. Selain itu, Goenawan pernah mewakili Indonesia dalam konferensi Gedung Putih mengenai Budaya dan Diplomasi di Washington, D.C. yang diselenggarakan oleh Presiden Clinton dan Ibu Negara Hillary Clinton.

todung-mulya-lubisTodung Mulya Lubis adalah seorang Pengacara Indonesia terpandang dan pendiri kantor hukum Lubis Santosa & Maramis (sebelumnya Lubis Santosa & Maulana). Ia lulus dari fakultas hukum Universitas Indonesia pada tahun 1974; kemudian mengejar gelar Master of Law dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1978) dan Universitas Harvard, Amerika Serikat (1980); dan meraih gelar Doctor of Juridical Science dari Universitas Kalifornia, Berkeley, Amerika Serikat (1990). Sebagai seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Lubis pernah memegang posisi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor Timur; Penasihat Internasional untuk Human Rights Advocates di Berkeley, Amerika Serikat; dan Anggota Komisi HAM Asia di Hong Kong. Di dunia hukum, Lubis adalah Anggota International Bar Association, London, Inggris, dan Presiden Jakarta Lawyers Club. Saat ini, ia juga menjabat Ketua International Crisis Group (ICG) Indonesian Foundation; Ketua Asosiasi Konsultan Paten Terdaftar Indonesia; Ketua Dewan Etis Indonesian Corruption Watch (ICW); dan Arbiter International Chamber of Commerce (ICC), Perancis. Dari sejumlah buku yang pernah ditulisnya, publikasi terakhirnya berjudul Soeharto vs. Time: In Search of the Truth.

daniel-dhakidaeDaniel Dhakidae, seorang ahli politik, adalah pengamat dan analis peran media di Indonesia. Setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, fakultas sosial dan politik tahun 1975, Dhakidae bekerja sebagai redaktur majalah Prisma. Majalah Prisma diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ia kemudian menjabat Ketua Dewan Redaksi sejak tahun 1979 dan ditunjuk menjadi Wakil Direktur LP3ES dari tahun 1982 – 1984. Tahun 1984, Dhakidae melanjutkan pendidikannya di Universitas Cornell, Ithaca, New York, mengambil jurusan Comparative Politics, Department of Government. Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar Master of Arts di bidang Ilmu Politik dan mendapatkan gelar Ph.D di bidang yang sama empat tahun kemudian. Disertasinya berjudul “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry” memenangkan Lauriston Sharp Prize tahun 1991 karena memberikan sumbangan luar biasa untuk perkembangan ilmu. Tamat dari Cornell University, Dhakidae bergabung dengan harian Kompas sebagai Kepala Litbang pada tahun 1994 – 2006. Ia juga aktif terlibat dalam berbagai organisasi non-profit. Selain menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan Tifa, ia adalah anggota Dewan Pengurus Partnership for Governance Reform; anggota Dewan Pengurus Yayasan Aksara; dan pendiri Indonesian Corruption Watch (ICW). Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain adalah “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” (2003) dan bersama Vedi R Hadiz mengedit buku “Social Science and Power in Indonesia” (2005).

Pengawas

Insert your content here

Melly-ResizedMelli Darsa adalah seorang pengacara terkenal di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 22 tahun di bidang sekuritas & pasar modal, merger & akuisisi, dan perbankan & keuangan. Ia memegang gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia (1990) dan Master of Law dari Harvard Law School, Amerika Serikat (1994). Melli sudah mulai bekerja sebagai pengacara sejak lulus kuliah tahun 1990, dan mendapatkan izin untuk praktek hukum di Negara Bagian New York, Amerika Serikat, tahun 1996.

Setelah mengumpulkan pengalaman di berbagai kantor pengacara papan atas, termasuk Hadiputranto, Hadinoto & Partners – anggota firma internasional Baker & McKenzie, Melli mendirikan firmanya sendiri yang dinamakan Melli Darsa & Co. (MDC) di tahun 2002. Ia mempunyai minat terhadap pembangunan integritas serta isu anti-korupsi, dan semakin mendalami bidang ini melalui jabatannya sebagai pendiri Strategic Reform Indonesia dan Presiden Perhimpunan Alumni Hukum, Universitas Indonesia.

Selain menjabat sebagai anggota Pengurus Yayasan Tifa, Melli juga merupakan konsultan hukum yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), dan anggota Badan Kehormatan Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) periode 2012 – 2015. Sebelum menjadi anggota Badan Kehormatan, Melli adalah Wakil Ketua HKHPM, menaungi bidang Pendidikan Hukum Dasar dan Lanjutan. Selama 12 tahun terakhir ia pernah menangani beberapa transaksi paling kompleks di Indonesia. Di tahun 2012, majalah Asian Legal Business mencatatnya sebagai salah satu pengacara perempuan paling berpengaruh di Asia.

Pengurus

Insert your content here

RizalMalik-ResizedKETUA

Rizal Malik adalah Dosen luar biasa di Universitas Gajah Mada, mengajar tentang korupsi politik, kebijakan sosial dan keadilan sosial. Ia mempunyai segudang pengalaman memimpin organisasi-organisasi non-pemerintah (Non-Governmental Organizations – NGOs) di Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai Senior Communication Advisor di kantor World Bank Jakarta, dan sebagai Team Leader unit Democratic Governance di United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.

Rizal juga pernah memegang beberapa posisi strategis lain, termasuk posisi Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (2006 – 2008), Penasihat Senior dalam bidang Kebijakan Sosial di United Nations Support Facility for Indonesian Recovery (UNSFIR. 2004 – 2005), Manager untuk Program Asia Timur di Oxfam Hong Kong (2003 – 2004), Direktur Operasional di Kemitraan untuk Pembaruan Tata-Pemerintahan di Indonesia (2002 – 2003), Kepala Perwakilan Oxfam Great Britain untuk Indonesia (1998 – 2001), Penasehat Pengembangan Kelembagaan di Proyek Pembangunan Perkotaan Yogyakarta (Yogyakarta Urban Development Project. 1993 – 1997), Koordinator Pelatihan di Proyek Pembangunan Wilayah Sulawesi (Sulawesi Regional Development Project. 1990-1992), dan Kepala Perwakilan CARE International Indonesia di Sulawesi Tenggara (1989 – 1990).

Rizal pernah mengikuti pendidikan pasca sarjana di Cornell University, Amerika Serikat, dalam bidang Komunikasi, Kependudukan dan Kajian Asia Tenggara pada tahun 1984-1986, dan mendapatkan gelar Master dalam bidang Kajian Pembangunan dari University of East Anglia, UK, pada tahun 1995.


Lukas-Resized
Lukas Luwarso merupakan salah satu pendiri Yayasan Tifa yang masih aktif terlibat dalam organisasi sebagai anggota pengurus. Setamatnya dari jurusan Sastra, Universitas Diponego, Semarang, Lukas memulai kariernya sebagai jurnalis di harian Bisnis Indonesia. Ia kemudian pindah bekerja ke majalah Forum Keadilan, setahun setelahnya.

Kiprahnya sebagai seorang jurnalis membawanya ke berbagai posisi kunci dengan organisasi-organisasi terpandang, yang sebagian masih dijabatnya sampai hari ini. Posisi yang dipegangnya termasuk, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI); Direktur Eksekutif Southeast Asian Press Alliance (SEAPA); Anggota Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); dan Sekretaris Eksekutif Dewan Pers.

Lukas adalah seorang penulis sejati yang telah menulis dan mengedit puluhan buku, diantaranya Negara dalam Bahaya, Insiden 27 Juli, Megawati Soekarno Putri: Saya Tidak Akan Mundur, Indonesia dalam Transisi (2000), Advokasi Jurnalis (2001), Media dan Pemilu (2004), serta Kebebasan Pers dan Tekanan Hukum (2005). Lukas juga pernah mewakili Indonesia di berbagai forum internasional di seluruh dunia, dan sukses mendapatkan beasiswa Fulbright untuk mempelajari jurnalistik di University of Maryland, Amerika Serikat, pada tahun 2005.

Riefki MunaM. Riefqi Muna yang dikenal sebagai pakar Pertahanan dan Keamanan adalah salah satu pendiri Research Institute for Democracy and Peace, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di lembaga tersebut. Ia mempelopori terbentuknya Indonesia-Australia Strategic Forum (IASFOR), sebuah forum bilateral untuk analisa strategi hubungan Indonesia dan Australia.

Riefqi memegang beberapa posisi lainnya, termasuk sebagai anggota pengurus Yayasan Tifa dan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasil penelitiannya antara lain “Civilian-Military Relations in Regional Military Command “(2000); “US Security Policy in East Asia” (2000); dan “Challenges for ASEAN Security for its Vision in 2020” (2001).

Selain itu, Riefqi telah mengikuti berbagai program pelatihan dari Australian Defense Force Academy, Canberra; Austrian Study Centre for Peace and Conflict Resolution (ASPR) di tahun 1998 mengenai penjagaan perdamaian di kalangan warga sipil; lalu dari European Peace University (EPU) pada tahun 1997; Asia Pacific Centre for Security Studies (APCSS), Hawaii, USA di tahun 1999; dan Preventive Diplomacy and Conflict Resolution in Washington D.C., di tahun yang sama, 1999. Ia merupakan salah seorang anggota pengurus Tifa yang juga aktif menulis di berbagai media, termasuk majalah berita mingguan, Tempo.

Luthfi-ResizedLuthfi Assyaukanie adalah pengajar senior di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Wakil Direktur Freedom Institute – sebuah pusat studi untuk demokrasi, nasionalisme dan ekonomi pasar. Lahir di Jakarta, Indonesia, Assyaukanie mengenyam pendidikan awalnya di institusi religius.

Ia melanjutkan studi ke University of Jordan, jurusan Hukum Islam dan Filsafat, lalu mendapatkan gelar Master dari International Islamic University di Malaysia, dan kemudian meraih gelar Ph.D dalam bidang Islamic Studies dari Melbourne University, Australia. Thesis Ph.Dnya memenangkan penghargaan Chancellor’s Prize 2007. Assyaukanie juga telah mendapatkan berbagai beasiswa, antara lain, Australian Development Scholarship (Australia), the Institute of Islamic Thought and Civilization Scholarship (Malaysia), dan Ministry of Education Scholarship (Yordania). Sebelum berkuliah ke negeri kangguru, Assyaukani pernah bekerja di majalah Ummat sebagai editor.

Pada tahun 2001, bersama-sama dengan Ulil Abshar Abdalla, ia membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL) dan saat ini menjabat sebagai anggota Pengurus JIL. Ia juga menjadi anggota pengurus Maarif Institute, serta dewan pengurus Yayasan Tifa. Selain berkontribusi terhadap serangkaian majalah dan koran nasional, termasuk Tempo, Kompas, Media Indonesia, dan Jawa Pos, Assyaukanie telah menulis tiga buku dan menyumbang sekitar 50 entri di dua ensiklopedi Indonesia. Buku-buku yang pernah dieditnya, antara lain, “Freedom, the State, and Development: Arief Budiman’s Essays,” “Faces of Liberal Islam in Indonesia,” dan “Politics, Human Rights, and The Issues of Technology in Contemporary Islamic Law.”

NelesTebay-ResizedPastor Neles Tebay, atau dikenal sebagai Pater Tebay adalah seorang pastor dari Papua dan koordinator Jaringan Damai Papua; organisasi yang mengkampanyekan hak-hak masyarakat lokal. Pater Tebay bergabung dengan Yayasan Tifa sebagai anggota pengurus di tahun 2009. Ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Jayapura, Papua.

Sepanjang hidupnya, Pater Tebay yang adalah masyarakat asli suku Mee, mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan bekerja dengan orang dari bermacam-macam negara. Ia lulus dari STFT Fajar Timur Seminari pada tahun 1990, kemudian mengambil S2 di East Asian Pastoral Institute, Ateneo de Manila University, Filipina, di tahun 1997, dan meraih gelar Doktor Filsafat dari Pontifical University Urbanianum, Roma, di tahun 2006.

Pengalamannya termasuk bekerja sebagai jurnalis koran Tifa Irian dan di koran bahasa Inggris The Jakarta Post. Hingga kini, Pater Tebay rajin menulis artikel tentang Papua di koran-koran nasional maupun internasional. Ia merupakan seorang aktivis yang terus mendorong dialog perdamaian antara Papua dengan Jakarta, dan juga telah menulis buku Papua Road Map bersama dengan Muridan S. Widjojo, sebagai solusi alternatif pemecahan masalah di Papua secara damai.

Debra Yatim-edit-resizedDebra Yatim yang telah lama berkiprah di dunia kesenian adalah seorang praktisi media dan pemilik sekaligus Direktur kantor konsultan public relations Komunikasi untuk Seni (Komseni). Komseni bekerja di bidang kampanye publik dan pemasaran sosial untuk budaya, persamaan gender, lingkungan, serta demokratisasi.Salah satu pendiri Yayasan Tifa ini, pernah mendapat penghargaan oleh Internews Media Leadership Award di Washington D.C., USA, di tahun 2007 atas upayanya dalam memimpin rekonstruksi pembangunan Aceh bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) setelah bencana tsunami 2004 yang menelan banyak korban dan keterlibatannya dalam membantu bencana alam Yogyakarta 2006. Debra adalah seorang aktivis sosial yang berjuang menyerukan persamaan hak, pluralisme dan keadilan untuk semua orang.

Beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam kampanye-kampanye besar, antara lain, edukasi pemilih melalui televisi, radio, dan diskusi masyarakat di 26 kota; pelatihan kemampuan advokasi untuk berbagai LSM lingkungan di Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara bersama USAID; kampanye perdamaian untuk perempuan Aceh bekerjasama dengan lebih dari 50 organisasi; serta kampanye untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan di media, dibawah UNIFEM/UNFPA Jakarta.

Debra juga sudah sering terlibat dalam kampanye untuk mempromosikan semangat multikulturalisme kepada anak-anak Indonesia melalui buku, museum, dan serial televisi. Selain itu, Debra pernah terlibat dalam kampanye yang mempromosikan seni tradisional di media massa dalam menghadapi perkembangan global pop culture bersama dengan Ford Foundation. Berpengalaman di radio dan televisi Australia, Debra menerima Professional Journalism Fellowship dari Stanford University, USA, dibawah dinas pemerintah Amerika, the National Endowment of the Humanities.

delimaDelima Kiswanti, ahli keuangan mikro dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang perbankan dan keuangan. Tahun 1986, Delima meraih gelar Insinyur dari jurusan Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar MBA di tahun 1993 dari Graduate School of Business Administration, University of Southern California, Los Angeles. Salah satu keberhasilan Delima adalah kontribusinya dalam mempersiapkan, mendirikan dan mendukung bank desa pertama di Papua. Sejak Oktober 2010, ia menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Andara; sebuah bank yang melayani lembaga-lembaga keuangan mikro, terutama dengan fokus misi sosial. Sebelum bergabung dengan Bank Andara, Delima pernah bekerja sebagai konsultan keuangan mikro di seluruh Indonesia, mencakup wilayah Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, Pontianak, Nias, Aceh dan Timor Timur. Sementara kariernya di bidang perbankan, termasuk bekerja di Citibank N.A., ING Indonesia Bank, dan sebagai Presiden Direktur di Bank Purba Danarta. Delima adalah seorang konsultan aktif, pelatih dan peneliti kegiatan keuangan, serta anggota Pengurus di sejumlah lembaga pembangunan sosial. Delima secara resmi bergabung dengan Yayasan Tifa pada Februari 2014.

nukeTri Nuke Pudjiastuti, Seorang ahli migrasi internasional, gender, konflik dan HAM, Tri Nuke Pudjiastuti adalah peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Ia adalah anggota peneliti di Kelompok Penelitian ASEAN sejak 2008 dan di Kelompok Penelitian Hubungan Indonesia – Taiwan sejak 2011. Kedua posisi ini masih dipegangnya hingga hari ini. Nuke memiliki pengalaman panjang sebagai peneliti dan telah menghasilkan sejumlah publikasi dan tulisan selama lima tahun terakhir. Beberapa publikasi terakhirnya adalah “How to Address the Impact of Recruiter Agencies in Indonesian Migrant Workers?” yang dipresentasikan di Phnom Penh, Kamboja; “Implementing Human Rights and Democracy in International Relations: on Irregular Movement Case” dipresentasikan di Queensland, Australia; and “The Construction of Indonesian Traditional Fishing’s Involvement in the Activities of Migrants Smuggling to Australia as a Form of Structural Victimization” dipresentasikan di Kyoto, Jepang. Tahun 2014, Nuke meraih gelar Doktor dari Fakultas Kriminologi, Universitas Indonesia, dengan topik disertasi mengenai penyelundupan manusia. Beliau juga memegang gelar MA in Geography and Environmental Studies dari Universitas Adelaide, Australia, dengan fokus buruh migran Indonesia yang kembali ke negara asal dan gelar Sarjana jurusan Sastra Slavia dari Universitas Padjajaran, Indonesia. Selain itu, Nuke berpengalaman sebagai Project Manager untuk penelitian kompetitif LIPI mengenai isu strategis dan kritis dengan fokus pengentasan kemiskinan.

wiwikWiwiek Awiati merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Ia menjadi bagian dari dewan pengurus Yayasan Tifa sejak tahun 2015. Semasa karirnya, Wiwiek aktif di kegiatan masyarakat sipil dan pernah pernah menjadi Ketua di Indonesia Center for Environmental Law (ICEL). Beliau juga aktif terlibat sebagai koordinator tim Pembaruan Mahkamah Agung (MA) RI dan hingga saat ini, Wiwiek aktif menjadi pengajar senior mata kuliah Hukum Lingkungan dan Penyelesaian Sengketa di FHUI. Penyuka fotografi ini juga menjadi penasehat di Tim Pembaruan Mahakamah Agung RI hingga sekarang. Reformasi hukum dan pengadilan, hukum lingkungan dan alternatif resolusi konflik adalah beberapa bidang yang diampu oleh Wiwik.

Staff

Darmawan Photo IDa


Darmawan Triwibowo is the Executive Director for Tifa Foundation.  Darmawan has worked on human rights andeconomic advancement for more than a decade, most recently at Oxfam in Indonesia where he was actively engaged in the post-2015 development processes that led to the United Nations’ adoption of the Sustainable Development Goals in September. His strong background in policy advocacy and his vast knowledge of civil society organizations in Southeast Asia will be of great value to our network. 

Darmawan previously worked at the Indonesia Parliamentary Center, an advocacy organization that promotes an effective parliament, and Progressio, an international development charity, in Timor Leste. He is a founder of the Indonesian think-tank Perkumpulan Prakarsa, which studies sustainable development, poverty and inequality, and fiscal and welfare policies. Email: darmawan@tifafoundation.org

ezra


Ezra Kaban is Finance Manager for Tifa. Prior to joining Tifa in 2006, Ezra’s had various and extensive experience working for financial management at non-profit sector in Indonesia. He was a Finance Manager for AusAid Project for Indonesian’s women’s health in 2003 – 2006, an Accountant for Netherlands Education Center from 2000 – 2003. Ezra also a professional in finance and accountant with a strong financial background at corporate sector since 1997 with various experience starting as an Accountant at Arthur Andersen into a Finance Manager at manufacturing company. Ezra obtained his degree on economics majoring in accounting from Pancasila University.

 

riza-2016


Riza Boris is working at Tifa as Office and Human Resources Manager. He is supporting the organization in coordinating the office functions and operations and managing all human resources aspects at the Foundation. He previously worked for Tempo Intimedia Tbk., a publisher of Tempo weekly news magazine and Tempo newspaper, and Toyota Motor Corporation. He graduated from University of Indonesia with a degree in Economics. He also studied at Magister of Law, majoring at Business Law, University of Indonesia.

Nova Photo ID


Nova Fransisca Silitonga is a program manager for Tifa Foundation and is based in Jakarta. Prior to joining Tifa, she worked with UNICEF Indonesia as a corporate partnership officer. Nova has worked for the ASEAN Secretariat and she also served as a program administrator and scholarship manager of the New Zealand Agency for International Development and advisor of the Japanese Grassroots Assistance Fund to the Embassy of Japan in Indonesia.

Nova has a postgraduate degree in international business administration from the University of Indonesia. She received a European Union scholarship to obtain a master di II livello from University of Trento, Italy and a Mastergraad from Regensburg University in Germany, majoring in comparative local development study. Email: nova@tifafoundation.org

 IMG_20160517_084729-01


Diah (Dhanny) Tantri Dwiandani is a knowledge management specialist for Tifa Foundation and is based in Jakarta. Dhanny has a background in cross-cutting projects involving good governance and ICT/Media. Prior to working with Tifa, she served as the Asia Economic Justice/GROW Campaign and Advocacy Officer at Oxfam Great Britain (GB) in Asia, where she help lead a Southeast Asia-wide digital campaign in climate adaptation financing. Before that, she worked on an Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)-wide project to promote transparency and accountability in the extractive sector at the Natural Resource Governance Institute. Her interest in knowledge production and sharing has brought her to projects such as Satudunia and Water SMS, which focus on building communication through mobile phones to map data to improve water services for the poor.  Dhanny graduated from the University of Indonesia, majoring in mass communication. Email: diah@tifafoundation.org

Fira Photo ID


Syafirah (Fira) Hardani is a program officer at Tifa foundation, based in Jakarta, Indonesia. Fira has significant experience working in the field of women’s rights and social justice.  She began her career at the Rifka Annisa Women Crisis Center, Jogjakarta. She has worked as a field researcher on human trafficking in West Kalimantan, after which she joined the American Center for International as a project officer with the Counter-Trafficking Project. Fira also worked at The United Nations Development Fund for Women (UNIFEM, now UN Women) as the national coordinator for CEDAW Implementation in Indonesia..  She has also served with the Pulih Foundation and the National AIDS Commission as a gender and human rights officer. Fira holds a master’s degree in development studies from Auckland University and received her law degree from the University of Gadjah Mada. Email: syafirah@tifafoundation.org 

Miranti Photo ID


Miranti (Mira) Hussein is a program officer with Tifa foundation and is based in Jakarta, Indonesia. She has a background in research and analysis around disaster management, peace-building and democratization issues.  Prior to joining TIFA, she worked on disaster risk reduction with Australia at the Indonesia Facility for Disaster Reduction and as a researcher with the Institute for Policy and Community Development Studies (IPCOS) — an independent research agency that works on democratization, good governance, and civil/military issues. Mira has worked for various international organizations in Indonesia, including peace-building with Catholic Relief Service (CRS) and post-disaster economic recovery with Church World Services (CWS). Mira obtained her Masters in Sociology from University of Indonesia. Email: miranti@tifafoundation.org

indri


Indriyani (Indri) Sugiharto is a program assistant at Tifa and is based in Jakarta.  Prior to joining Tifa, Indri worked at the School for Domestic Workers in Yogyakarta, teaching English class to domestic workers, and facilitating writing and social media trainings. She has also written about gender issues for the Indonesian Feminist Journal.

During university, Indri was involved in research projects pertaining to poverty alleviation, higher education and the environment. She also worked as the resource development coordinator at Gadjah Mada Diving Society. Indri is a philosophy graduate from Gadjah Mada University, Indonesia.


Sri Nurlia Wuliyanti is Tifa Foundation’s grants officer and is based in Jakarta, Indonesia.  Prior to joining TIFA, Nurlia was the grants manager at a multi-stakeholder forestry program funded by the Department For International Development (DFID). She has a background in grants management and auditing. Nurlia has a degree in accounting from the University of Indonesia. Email: nurlia@tifafoundation.org

 Dennis Photo ID


Dennis Tjandrasa is an accountant with Tifa Foundation and is based in Jakarta, Indonesia. He has over five years working experience in auditing and in consulting for financial institutions and the electricity, mining, oil and gas industries.  Before joining TIFA, Dennis worked as a senior auditor and was involved in auditing the trading, plantation and non-profit industries. Dennis has a degree in accounting from Atma Jaya University and is completing his master’s degree in finance from Binus Business School. Email: dennis@tifafoundation.org


Putri Amelia is an general administrative assistant with Tifa Foundation in Jakarta, Indonesia. Putri comes to Tifa from the hospitality business, having worked for AccorHotels and Fairmont Hotel Jakarta. At AccorHotels she worked as a senior secretary to the vice president of sales, marketing & distribution in the corporate office covering Malaysia, Indonesia and Singapore. Prior to that, she was promoted to executive secretary to the sales & marketing director at Fairmont Hotel after having served as an operations assistant manager in the Marquee Executive Offices. Email: putri@tifafoundation.org