Mengenal Agama Parmalim dari Film Ahu Parmalim

Mengenal Agama Parmalim dari Film Ahu Parmalim

Tak hanya enam, Indonesia sebenarnya juga memiliki ratusan agama lokal yang merupakan warisan nenek moyang. Sebelum akhirnya diakui keberadaannya oleh pemerintah melalui keputusan Mahkamah Konstitusi pada awal November 2017, para penganut agama lokal kerap kali mendapat perlakukan diskriminatif, baik dari masyarakat maupun Negara. Meski pada akhirnya tak sedikit agama lokal yang punah, masih ada ratusan lainnya yang mampu bertahan dan berkembang sampai saat ini, salah satunya adalah Ugamo Malim.

Indonesia adalah negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Oleh karena itu, penting menjaga toleransi serta sikap saling menghargai dan menghormati demi terpeliharanya keutuhan bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap toleran antar sesama adalah dengan mengenal dan merangkul perbedaan yang ada di antara setiap kelompok, termasuk dalam urusan agama.

Sebagai upaya untuk mewujudkan hal itu dan mendukung toleransi dan pengakuan terhadap kelompok penghayat dan kepercayaan lokal seperti Ugamo Malim, Yayasan Kampung Halaman atas dukungan Yayasan Tifa bertepatan dengan Hari Toleransi Sedunia yang jatuh pada hari ini, 16 November 2017, merilis sebuah film dokumenter ‰ÛÏAhu Parmalim‰Û. Film dokumenter karya sutradara Cicilia Maharani Tunggadewi ini bercerita tentang kehidupan Carles Butar Butar, seorang remaja penganut Ugamo Malim.

Carles Butar Butar adalah remaja Parmalim berusia 17 tahun. Di dalam hidupnya, ia menjalani dua peran besar, sebagai seorang anak yang membantu perekonomian kelarga dengan bekerja di sawah dan seorang remaja yang tengah berusaha meraih cita-citanya sebagai seorang polisi.

Cicilia mengungkapkan, ia memutuskan untuk mengangkat kisah Carles karena tertarik dengan kehidupannya. ‰ÛÏHal yang paling menarik bagi saya adalah di usia belianya, Carles sudah berusaha menyeimbangkan diri, antara berbakti pada keluarga dan memenuhi keinginan pribadinya. Carles mengurus dirinya sebaik yang dia usahakan. Saya percaya sikap Carles tersebut berkaitan dengan apa yang Carles yakini sebagai Parmalim,‰Û tuturnya.

Bagaimana Carles menjalani dua peran besar dalam hidupnya dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama yang ia percayai? Simak kisahnya di film ‰ÛÏAhu Parmalim‰Û produksi Yayasan Kampung Halaman atas dukungan Yayasan Tifa di bawah ini.

div#stuning-header .dfd-stuning-header-bg-container {background-image: url(http://www.tifafoundation.org/wp-content/uploads/2015/06/Carles-Butar-Butar-Ahu-Parmalim-Kampung-Halaman-1.jpg);background-size: cover;background-position: center center;background-attachment: scroll;background-repeat: no-repeat;}#stuning-header div.page-title-inner {min-height: 650px;}