Menyuarakan Papua Lewat Film

Menyuarakan Papua Lewat Film

Nanti kedepan hutan su habis. Hutan yang sekarang yang sisa ini hanya sedikit saja yang kitorang lindung ini. Hutan yesu tidak ada, jangan perusahaan lagi mo bongkar lagi. Cukup sudah.

Di tengah rerimbunan semak dan pohon sagu, Mama Mariode bercerita sambil mengawasi anak-anaknya manancapkan palang blokade. “Disini tuh masih hutan utuh, tong tinggal palang-palang, dibongkar,” ujarnya, sambil menunjuk ke bentangan semak dan perkebunan sawit.  Ia bercerita, area yang ditunjuknya itu dahulu adalah hutan lebat, tempat ia dan keluarganya bermukim dan menyambung hidup. Kini, area yang dulu menghijau oleh pohon sagu tersebut telah disulap menjadi perkebunan sawit.

Cerita diatas adalah penggalan dari film dokumenter Mama Mariode yang diputar di Festival Film Papua (FFP) yang diselenggarakan di tanggal 7-9 Agustus 2017 lalu di Merauke, Papua. Adalah Papuan Voices (PV), sebuah perkumpulan lokal di Papua yang menginisiasi kegiatan FFP, festival film pertama di Papua yang mengangkat isu Papua oleh warga Papua.

Papuan Voices sendiri adalah sebuah lembaga yang terbilang baru berdiri. Awalnya, Papuan Voices merupakan sebuah program video advokasi yang diinisiasi oleh para pembuat film dari Papua bersama dengan Engage Media, sebuah organisasi yang bergerak dalam isu pemberdayaan media, teknologi dan budaya. Program ini kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi independen dan hingga kini telah memproduksi 60 film yang di buat oleh putra-putri asli Papua.

Selama ini, kisah-kisah mengenai Papua yang diceritakan oleh orang-orang Papua sendiri masih sangat minim. Maka, dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mengangkat lebih banyak cerita Papua yang dinarasikan oleh anak-anak muda Papua, muncullah gagasan melaksanakan Festival Film Papua.

Max Binur, Kordinator Papuan Voices mengatakan, Festival Film Papua awalnya hendak dilaksanakan sebagai bagian dari Kongres Masyarakat Adat Korban Investasi di Papua yang dilaksanakan di Merauke setiap tahun oleh Koalisi LSM di Papua dan di nasional.

Namun, menurut Max, satu bulan sebelum kegiatan Kongres berlangsung, Bupati Merauke telah menyatakan secara terbuka untuk melarang LSM Lokal dan Nasional untuk masuk ke Merauke untuk melaksanakan kegiatan terkait dengan masalah perkebunan kelapa sawit. Kongres ini akhirnya dibatalkan.

Meski demikian, Papuan Voices memantapkan niat untuk melaksanakan Festival Film Papua yang pertama di Merauke, di lokasi yang berdekatan dengan area Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). “Maka, dengan mengambil resiko, kami tetap melaksanakan festival ini meski tanpa dukungan dari Koalisi LSM di Papua dan di nasional,” ujar Max.

Jeritan Alam dan Manusia Papua

Hutan di Kampung Kwalana, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat telah rusak karena dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Foto: Diambil dari film dokumenter Mama Mariode.

Hutan di Kampung Kwalana, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat telah rusak karena dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Foto: Diambil dari film dokumenterMama Mariode.

Tema yang diusung dalam Festival Film Papua pertama ini adalah: BOMI ZAI ANIM-HA. Bomi zai atau dikenal dengan sebutan musamus adalah rumah semut yang khas ada di Merauke. Sedangkan Anim-Ha adalah manusia. Tema ini dipilih untuk menjelaskan hubungan epistemologi sebab-akibat manusia dan alam di Papua khususnya di tanah Ahim-Ha Merauke.

Oleh karena itu, film-film yang diputar di festival ini banyak mengangkat kisah hubungan antara alam dengan manusia, maupun manusia dengan manusia seperti kisah Mama Mariode dan keluarganya saat menanggapi alih fungsi lahan yang terjadi di Papua.

Sebagai sebuah komunitas baru yang sedang membangun dan menguatkan institusi, menyelenggarakan sebuah festival film skala luas bukanlah perkara mudah. Apalagi, jika festival yang dimaksud banyak mengangkat isu-isu krusial di masyarakat Papua. Inilah yang diungkapkan Asrida Elisabeth, Sie Acara dari FFP saat menceritakan tantangan dan keberhasilan dalam pelaksanaan Festival Film Papua.

“Ini adalah pengalaman pertama sebagai penyelenggara. Kami membaca berbagai informasi tentang festival film, mencoba belajar dari pengalaman komunitas lain yang sudah menyelenggarakannya. Dari situ kami kemudian merumuskan versi kami sendiri sesuai konteks Papua saat ini,” ujar Asrida.

Selain tantangan dalam pengorganisasian kegiatan festival, keamanan juga menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi Papuan Voices. Ada kekhawatiran bahwa pihak keamanan tidak menyukai beberapa film yang diproduksi Papuan Voices. “Menjelang acara, pihak keamanan meminta kopi dari semua film yang akan diputar. Mereka juga terus memantau selama kegiatan berlangsung,” cerita Asrida.

Beberapa film yang dibuat oleh Papuan Voices memang menceritakan kisah warga Papua yang menjadi korban dari investasi pembangunan di Papua, ataupun korban kekerasan oleh aparat militer. Misalnya film surat Cinta Untuk Sang Prada yang berkisan tentang kisah gadis Papua yang mencari mantan kekasihnya – seorang prajurit militer yang setelah memberinya satu orang anak, justru meninggalkannya pulang ke Jawa.

Karena pertimbangan keamanan tersebut, beberapa film kemudian urung diputar. Film-film tersebut antara lain Surat Cinta Untuk Sang PradaThe Road To Home dan Black Orchid.

“Selama acara pun selalu ada (pihak keamanan) yang memantau. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk bersuara. Beberapa agenda penting tetap terlaksana,” cerita Asrida.

Sebagai lembaga yang mendukung keterbukaan dan keadilan dan hak-hak kelompok minoritas, Yayasan Tifa memberikan dukungan penuh bagi pelaksanaan festival ini. Program Officer Yayasan Tifa untuk Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Sudaryanto mengatakan, penyelenggaraan Festival Film Papua merupakan terobosan kreatif untuk menggali potensi penggiat film dokumenter Papua disamping juga untuk menangkap persoalan sosial di Papua dari sudut pandang warga Papua sendiri.

“Dari film-film yang diputar dalam festival, kita mendapatkan gambaran mengenai persoalan lingkungan, layanan publik, infrastruktur, layanan kesehatan dan pendidikan, budaya yang terjadi di Papua. Festival Film Papua perlu didorong untuk memajukan perfilman di Papua sekaligus untuk menyediakan cermin bagi kondisi sosial terkini di Papua.”

Rencananya, Festival Film Papua akan menjadi program kerja tahunan. Festival ini akan menjadi ajang kompetisi kreativitas generesi muda dalam memproduksi film-film pendek yang mengangkat cerita tentang kehidupan manusia dan alam di Papua. Semoga lewat kerj-kerja yang dilakukan oleh Papuan Voices, semakin banyak generasi muda Papua yang tergerak untuk membangun Tanah Papua melalui Film.

div#stuning-header .dfd-stuning-header-bg-container {background-image: url(http://www.tifafoundation.org/wp-content/uploads/2017/12/Festival-Film-Papua.png);background-size: cover;background-position: center center;background-attachment: scroll;background-repeat: no-repeat;}#stuning-header div.page-title-inner {min-height: 650px;}