Fokus Tifa dalam program ini adalah mendorong kerja-kerja yang memungkinkan kelompok minoritas dan marjinal untuk mengartikulasikan suara mereka dan mengadvokasikan ketertarikan mereka dalam ranah publik.

kebebasan-berekspresi

Kebebasan Berekspresi

Kebebasan berekspresi di Indonesia terancam oleh penerapan hukum penghinaan (defamasi) yang dapat berujung kurungan penjara bagi pihak yang dituduh melakukan pencemaran nama baik. Dalam beberapa kasus yang terjadi, masyarakat yang berani melaporkan pelanggaran melalui media akhirnya malah mendapat hukuman. Pihak yang sering dirugikan dalam kasus ini adalah jurnalis dan masyarakat biasa yang menggunakan media terutama media online.

Topik ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu, memastikan penggunaan UU Pers dalam sengketa jurnalistik, mempromosikan prinsip non-kriminalisasi bagi kegiatan jurnalistik dan kebebasan berekspresi di media, dan mengadvokasi kebebasan berekspresi di media.

Yayasan Tifa memberi dukungan pada ide-ide baru yang diajukan kelompok masyarakat sipil dengan kompetensi dan komitmen pada kebebasan berekspresi di media. Selain itu, Tifa juga memberi dukungan melalui pelaksanaan lokakarya, penerbitan penelitian dan diskusi publik.

140602_tifa_poverty128

Public Interest Media

Media di Indonesia saat ini didominasi oleh 12 kelompok utama. Sebagian besar dari mereka adalah media nasional dengan isi berita yang cenderung bias urban dan berpotensi terintervensi oleh para pemiliknya. Di tengah situasi seperti ini, masyarakat perlu bersikap lebih kritis dalam memantau media.

Tujuan dari topik ini adalah untuk memperkuat kapasitas warga dalam memantau media, khususnya televisi dan Pemilu, serta memberikan penghargaan kepada media untuk meningkatkan kualitas isi berita dan mendorong diskursus publik tentang sistem rating.

Yayasan Tifa bekerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk membuat berbagai penelitian kondisi media di Indonesia dan melakukan advokasi untuk mendorong media yang berkualitas.

140507_remotivi066

Membela Media yang Bebas dan Imparsial/Keragaman Media

Beroperasinya media yang bebas tanpa monopoli atau kontrol oleh sekelompok orang tertentu merupakan syarat berjalannya demokrasi. Dengan adanya jaminan kebebasan, media massa mampu menjalankan fungsi jurnalistiknya sebagai penyebar informasi dan alat kontrol.

Topik ini bertujuan untuk melakukan advokasi revisi UU Penyiaran, advokasi isu kepemilikan media dan keragaman isi media, serta advokasi peningkatan kualitas penyiaran publik.

Yayasan Tifa akan mendukung koalisi masyarakat sipil dalam melakukan advokasi untuk menjamin keragaman kepemilikan media dan keragaman isi berita. Advokasi terutama diarahkan pada revisi UU Penyiaran untuk mengakomodir aspirasi masyarakat sipil.

140507_remotivi082Kebebasan Informasi

Mendapatkan, menyebarluaskan, dan memproduksi informasi dalam segala bentuk dan medium merupakan hak setiap warga negara. Pada praktiknya, meskipun UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) sudah disahkan, masih ada saja lembaga publik yang menolak memberikan informasi kepada masyarakat. Indonesia juga sudah berpartisipasi dalam inisiatif global tentang pemerintahan terbuka (Open Government Partnership), namun belum banyak berpengaruh pada penerapan UU KIP. Padahal informasi ini penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan baik sebagai mitra pemerintah maupun melakukan pengawasan terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Tujuan topik ini adalah mengembangkan implementasi pemerintahan terbuka di institusi kepolisian, menjamin akses informasi bagi publik dan jurnalis, serta menciptakan outlet informasi pada isu lingkungan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan perlindungan buruh migran.

Yayasan Tifa mendorong terwujudnya hak atas informasi bagi seluruh masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi akan dimaksimalkan sebagai bagian dari masa depan akses informasi dan bagaimana akses ini diarahkan untuk tidak hanya mengarah pada permasalahan kesenjangan digital (digital divide), tapi bagaimana meningkatnya literasi informasi di tingkat komunitas. Kapasitas komunitas yang ditingkatkan tidak hanya memahami informasi mana yang relevan tetapi bagaimana komunitas dapat memproduksi informasi menjadi pengetahuan baru dari informasi yang diperolehnya baik melalui pemerintah atau sumber informasi lainnya.

[vc_teaser_grid title=”Berita-berita Terkait” grid_columns_count=”1″ grid_teasers_count=”4″ grid_content=”teaser” grid_layout=”title_text” grid_link=”link_post” grid_link_target=”_self” grid_template=”grid” grid_layout_mode=”fitrows” grid_posttypes=”post” grid_categories=”Media & Information” orderby=”date” order=”desc” el_position=”first”] Berita Terkait Lainnya...

[vc_teaser_grid title=”Publikasi terbaru” grid_columns_count=”1″ grid_teasers_count=”4″ grid_content=”teaser” grid_layout=”thumbnail” grid_link=”link_post” grid_link_target=”_self” grid_template=”grid” grid_layout_mode=”fitrows” grid_posttypes=”project” grid_categories=”Publikasi TIFA” orderby=”date” order=”desc” el_position=”first”] Publikasi Lainnya...