Yati Andriyani: Fokus Berkontribusi Bagi Pemenuhan HAM di Indonesia

Yati Andriyani: Fokus Berkontribusi Bagi Pemenuhan HAM di Indonesia

Bagi Yati Andriyani, hak asasi manusia adalah perwujudan cinta terhadap sesama manusia. Inilah yang menyebabkan penggemar makanan tradisional Indonesia ini konsisten bekerja dalam memperjuangan keadilan dan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) bagi sesama. Sepak terjangnya dalam isu HAM telah membawanya ke tampuk pimpinan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) sebagai Kordinator Nasional untuk periode 2017-2020. Dedikasi Yati juga diakui oleh Open Society Foundation (OSF) yang turut memberikan dukungan lewat pemberian New Executive Fund (NEF).

Apa yang melatarbelakangi perempuan ini untuk terus konsisten bekerja di isu HAM? Yayasan Tifa pun melakukan wawancara dengan Yati untuk menggali lebih jauh sosok dibalik perempuan perkasa ini.

Pacivis Sejati

Dok. Yati Andriyani/Facebook
Dok. Yati Andriyani/Facebook

Zero tolerance for violence. Frasa ini mungkin sangat tepat untuk menggambarkan cara pandang Yati Andriyani. Terjun sebagai aktivis sejak masih mahasiswa, Yati kerap terlibat dalam aksi demonstrasi dan diskusi HAM. Salah satunya adalah diskusi mengenai penghilangan paksa yang dipimpin oleh Almarhum Munir Said Thalib yang merupakan pendiri KontraS. Diskusi panjang dengan Munir membuka matanya akan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di negara ini.

Sebelumya, Yati yang mengecam pendidikan dasar sebagai santri di Jawa Barat tidak tahu menahu soal berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi masa itu. Kehidupan di pesantren dan interaksinya dengan santri-santri lain yang datang dari berbagai wilayah dan latar belakang membuat Yati sedemikian terbiasa dengan kehidupan mandiri dan saling menghargai, dan mengedepankan kepentingan umum. Ia bahkan sempat tak percaya ada orang yang tega melakukan tindak kekerasan hingga menghilangkan nyawa individu lain.

Pandangan ini berubah semenjak ia lulus pesantren dan melanjutkan studi ke Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Interaksinya sebagai mahasiswa di Jakarta memperluas pandangannya akan kondisi negara medio 1997. Pada masa itulah ia menghadiri diskusi dengan Munir dan mulai aktif berorganisasi di kampus. Ia pun bergabung dengan organisasi pro reformasi dan aktif terlibat demonstrasi. Akan tetapi, berbagai bentrok dan kekerasan yang mewarnai demonstrasi masa itu membuatnya gelisah. “Kekerasan tidak memberikan solusi dan hanya akan menciptakan kekerasan baru,” ujarnya.

Ia lalu bergabung dengan Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan (KOMPAK), sebuah organisasi mahasiswa yang fokus pada isu perubahan sosial dan politik dan senantiasa mengedepankan pendekatan anti kekerasan. Selain itu, pada tahun 1999, bersama dengan beberapa teman Yati bergabung dengan Seroja, lembaga studi dan advokasi perempuan di UIN Syarif Hidayatullah. Hal ini didorong oleh pengalamannya di pesantren dimana ia banyak menemukan ketimpangan dalam pola relasi antara perempuan dan laki-laki. Pengalaman di Seroja bergulat dengan konsep feminism mengukuhkan pandangannya akan hak dan peran yang dimiliki oleh perempuan. “Meski kerap diposisikan di bawah laki-laki, perempuan sesungguhnya memiliki peran penting dan peran yang tidak bisa dikontrol,” kata Yati.

Keaktifan Yati di KOMPAK dan Seroja membawanya beririsan dengan KontraS, sampai ia bergabung sebagai relawan pada tahun 2002.

Berlabuh di KontraS

Tantangan pertama Yati dari KontraS adalah mengawasi pelaksanaan persidangan di pengadilan HAM Ad Hoc kasus pelanggaran HAM di Timor Timur (Tim-Tim). Yati menceritakan banyak aparat militer yang hadir dan milisi berseragam serupa militer. ”Suasana intimidatif sangat kental terasa,” ungkap Yati.

Ketika kembali ke kantor KontraS untuk melaporkan hasil persidangan, Yati melihat kantor para pejuang HAM itu rusak akibat serangan kelompok massa yang menyebut diri mereka sebagai Solidaritas Keluarga Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Cawang. Yati yang sempat berkeinginan untuk mundur dari tugas tersebut pun langsung mengurungkan niatnya. Teror terhadap para aktivis HAM itu justru semakin membuat Yati yakin bahwa ia berada di sisi yang benar dan Indonesia sedang luar biasa bermasalah. Yati akhirnya memutuskan untuk terus aktif di KontraS, setidaknya sampai proses persidangan kasus Timor Timur selesai.

Setelah lulus kuliah, Yati memutuskan untuk mengurangi aktivitasnya di KontraS dan berniat untuk mencari pengalaman pekerjaan lain. Meski begitu, Yati kerap datang ke kantor KontraS untuk membantu mereka sebagai pencatat pertemuan atau rapat. Pada tanggal 7 September 2004, Yati datang ke kantor KontraS untuk menjadi juru catat dalam rapat intenal KontraS. “Sesampainya di kantor KontraS, semua orang diam dan di papan tertulis: sedang menunggu konfirmasi dan kebenaran meninggalnya Munir,” kenang Yati.

Peristiwa kematian Munir adalah momentum yang mengukuhkannya untuk menambatkan perjuangannya lewat KontraS. “Munir adalah seorang pejuang HAM yang sangat saya kagumi dan hormati. Meski penegakan hak asasi manusia merupakan pekerjaan berat, bersama KontraS saya yakin dapat berkontribusi untuk penegakan hak asasi manusia dan kemanusiaan. Atau setidaknya, saya dapat menunjukan keberpihakan saya kepada para korban” ujarnya.

Sejak itu, bersama KontraS, Yati tak pernah berhenti memperjuangkan HAM di Indonesia, termasuk penuntasan banyak kasus kekerasan dan pelanggaran HAM berat masa lalu. Ia terlibat dalam advokasi berbagai kasus pelanggaran HAM. Selain itu, Yati juga aktif mendukung penghapusan hukuman mati, penyiksaan, kekerasan, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas.

Enam tahun bergabung di KontraS, Yati dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Pemantauan Impunitas, salah satu divisi utama di organisasi ini yang langsung berhubungan dengan para korban kejahatan dan pelanggaran HAM masa lalu. Selama duduk di posisi ini pada tahun 2008-2013, Yati menjadi salah satu aktor belakang layar yang turut menggerakkan penyelenggaraan Aksi Kamisan bersama para korban yang tergabung di dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), termasuk Suciwati, istri Almarhum Munir Said Thalib, dan Maria Sumarsih, ibu Almarhum B.R Norma Irawan (Wawan). Belajar dari Para Ibu Plaza de Mayo, Yati yakin bahwa kegigihan melawan lupa peristiwa kejahatan masa lalu akan memberi energi positif yang panjang bagi perjuangan dan keadilan untuk korban.

Yati Andriyani bersama sejumlah aktivis HAM menuntut pembebasan Khurram Parvez, seorang pembela HAM asal Khasmir dan Ketua Asian Federation of Against Involuntary Disappearance (AFAD). Dok: AFAD/Facebook.
Yati Andriyani bersama sejumlah aktivis HAM menuntut pembebasan Khurram Parvez, seorang pembela HAM asal Khasmir dan Ketua Asian Federation of Against Involuntary Disappearance (AFAD). Dok: AFAD/Facebook.

Usaha Yati memperjuangkan hak hidup setiap individu juga ia lakukan di tingkat internasional. Sejak tahun 2011, ia bergabung dengan Federasi Anti Penghilangan Paksa Asia (AFAD), dimana ia sempat menjabat sebagai Perwakilan Indonesia untuk AFAD. Saat ini, Yati menempati posisi sebagai Badan Pekerja AFAD, duduk sebagai bendahara.

Setelah 15 tahun lebih bekerja di isu HAM, Yati melihat, mengungkapkan kebenaran berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia bukanlah perkara mudah. Yati menilai, itikad baik negara untuk menuntaskan peristiwa-peristiwa kelam masa lalu masih sebatas simbolis dan masih jauh dari substansi yang diharapkan. “Negara belum mampu menghadirkan keadilan substantif kepada para korban, dan belum menjalankan agenda HAM.”

Terpilih sebagai Kordinator Nasional KontraS 2017-2020, Yati bercita-cita untuk menjadikan KontraS sebuah rumah para korban pelanggaran HAM, dimana perjuangan keadilan untuk mereka dan bersama mereka akan terus dilakukan. Bersama KontraS. Yati juga ingin mengubah pandangan masyarakat, khususnya anak muda, tentang HAM yang selama ini kurang populer dan dianggap terlalu serius.

Menerima Penghargaan

Terpilih sebagai kordinator KontraS merupakan sebuah tantangan baru sekaligus peluang bagi Yati untuk memajukan perjuangan HAM di Indonesia. Semangat dan kegigihan ini juga yang membuat Open Society Foundation mantap mendukungnya lewat pemberian penghargaan New Executive Fund (NEF). NEF merupakan dana yang diperuntukkan bagi pimpinan baru sebuah organisasi yang bekerja di isu keterbukaan, keadilan, kesetaraan, dan kebinekaan.

Yati Andriyani melakukan aksi menyemen kaki sebagai wujud solidaritas dengan para petani Pegunungan Kendeng. Dok. SEJUK/Facebook.
Yati Andriyani melakukan aksi  menyemen kaki sebagai wujud solidaritas dengan para petani Pegunungan Kendeng. Dok. SEJUK/Facebook.

Latar belakangnya sebagai seorang perempuan muslim yang menjadi pimpinan sebuah organisasi pengawas hak asasi manusia di negara dengan jumlah muslim terbesar menjadi salah satu alasan OSF memberikan penghargaan ini kepada Yati. Yati menunjukkan bahwa nilai-nilai hak asasi manusia dan nilai-nilai Islam tidak bertentangan, mendukung misi OSF untuk menciptakan masyarakat yang lebih toleran. Diharapkan lewat dana ini, Yati dapat mengembangkan dan meningkatkan kekuatan dampak dari kerja-kerja KontraS, khususnya bagi kelompok minoritas, termasuk korban pelanggaran HAM.

Yati percaya, betapa pun kecil kemenangan yang didapatkan para pejuang HAM, selalu ada harapan selama kasus-kasus pelanggaran HAM tetap lantang disuarakan. Masyarakat juga harus terus konsisten dalam upaya mengentaskan ketidakadilan yang dialami para korban dan pelindung HAM. Yati pun percaya bahwa apa yang ia kerjakan bersama KontraS dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi penyelesaian berbagai persoalan bangsa, khususnya terkait hak asasi manusia.

“Selalu ada kemenangan kecil dan pelajaran dari setiap kasus yang dihadapi,” ujarnya optimis. Yati juga percaya jika bangsa ini bisa menyelesaikan beban masa lalunya secara bermartabat, bangsa ini akan naik kelas, bergerak maju sebagai bangsa yang lebih beradab, setara dengan bangsa-bangsa lain yang telah berhasil melewati persolan serupa.

div#stuning-header .dfd-stuning-header-bg-container {background-image: url(http://www.tifafoundation.org/wp-content/uploads/2018/01/Yati-Andriyani-1-Sumber-Papua-Itu-Kita.jpg);background-size: cover;background-position: right center;background-attachment: scroll;background-repeat: no-repeat;}#stuning-header div.page-title-inner {min-height: 650px;}